- - - -
Facebook  Twitter  Google+

21/03/2014

Pemkab Sumenep Tetapkan Batas Cagar Alam Pulau Saobi


Seorang perempuan sedang menikmati indahnya cagar alam

SUMENEP (lintasmaduranews) - Pulau Saobi merupakan salah satu pulau dari Kepulauan Kangean, Kecamatan Arjasa. Secara administratif, pulau ini berada di wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Indonesia.

Sampai saat tidak banyak yang tahu jika kabupaten Sumenep memiliki hutan cagar alam yang terletak di Pulau Saubi, dan merupakan satu satunya cagar alam di  Madura yang telah terkenal sejak jaman penjajahan Belanda.

Agar dari aspek legalitasnya semakin terjamin, Wakil Bupati Sungkono Sidik mengatakan, Pemkab Sumenep bersama Panitia Tata Batas Kawasan Hutan (PTB) telah menetapkan batas kawasan hutan Cagar Alam Pulau Saobi, yakni sepanjang 11,64 km persegi dengan  luas areal  kurang lebih 509 hektar.

Dengan ditetapkannya batas hutan Cagar Alam Pulau Saubi, Wabup berharap dapat melahirkan manfaat cukup signifikan bagi masyarakat Pulau Saubi.

Wabub  juga mengharapkan, dengan penataan batas kawasan hutan Cagar Alam Pulau Saudi, proses pengelolaan, perlindungan hingga proses pengembangan Pulau Saudi, dapat dilakukan secara baik.

“Pulau Saubi memiliki panjang 11,64 km persegi dengan luas areal kurang lebih 509 hektare. Dan saya berharap agar dengan penataan batas kawasan hutan Cagar Alam pulau Saubi, proses pengelolaan dan perlindungan dapat dilakukan secara baik,” harap Wabub kepada lintasmaduranews, Jumat (21/03/2013).

Wabup Soengkono Sidikjuga berpesan kepada para Kepala Desa, Camat dan tokoh masyarakat di Pulau Saobi, agar benar-benar memahami kebijakan pemerintah dalam pengelolaan Pulau Saubi. 

Menurut warga setempat, Samsul mengatakan, cagar alam yang ada di Pulau Saubi tersebut di kelolah oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur dan kurang memberi manfaat positif kepada warga. Bahkan binatang yang ada di dalamnya seperti Rusa dan Kera sering merusak tanaman milik warga saat musim tanam padi dan jagung.

"Cagar alam itu selama ini kurang memberi manfaat kepada kami. Dan perlu adanya penambahan petugas cagar  sehingga tidak ada hewan yang merusak tanaman warga.

Samsul menambahkan, di cagar alam itu sering terjadi penjarahan kayu oleh warga untuk memenuhi salah satu kebutuhan hidupnya. (sum)