- - - -
Facebook  Twitter  Google+

09/08/2014

Warga Pinggir Papas Merebut Berkah Syekh Angga Suto


lintasmaduranews - Warga Desa Pinggir Papas, Desa Karanganyar dan Desa Palebunan, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura, Jawa Timur, merebut berkah Syekh Angga Suto melalui rangkaian ritual “Nyadar” di pemakaman Asta Buju’ Gubang, Kampung Kolla, Desa Kebun Dadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep.

Warga dari beberapa desa tersebut berebutan masuk pintu makam Buju’ Gubang untuk mendapatkan tempat duduk yang lebih dekat dengan nisan Syekh Angga Suto asal Cirebon, Jawa Barat. Diyakini, semakin dekat dengan nisan tersebut maka semakin banyak dapat berkahnya.

“Warga memang selalu berebutan untuk masuk kedalam petilasan leluhur kami, karena bagi masyarakat yang bisa masuk lebih awal dan tempat duduknya dekat dengan nisan Pangeran Anggasuto, mereka meyakini akan mendapatkan berkah lebih ketimbang masyarakat yang duduknya agak jauh,” kata Nardi (40), warga Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Sabtu (9/8/2014).

Namun untuk masuk sangat sulit karena saling berebutan sehingga pintuk masuk sesak dan terjadi desak-desakan sampai ada yang terjatuh.

“Saat itulah, mereka berebut masuk kedalam areal pemakaman, untuk mendapatkan tempat paling depan. Namun, untuk mendapatkan tempat paling depan sangat sulit dan harus saling dorong dengan warga yang lain. Jika apes malah akan jatuh tersenggol,” ujar Nardi.

Nardi menceritakan, pada zaman dahulu kala tepatnya di zaman pertengahan datanglah seorang mubaligh yang bernama Syekh Angga Suto tetapi masyarakat Sumenep lebih mengenalnya dengan sebutan Mbah Anggasuto. Menurut cerita yang ada beliau berasal dari Cirebon, Jawa Barat tetapi sebelumnya di kabarkan berasal dari negara Arab.

Sebenarnya tujuan dari beliau ke Sumenep adalah untuk menyebarkan agama Islam, tetapi pada saat perjalanan menuju ke Timur, beliau melewati jembatan rantai, lalu menuju ke Selatan dan sampailah beliau di suatu pantai dekat Sumenep yaitu di desa Pinggir Papas.

Saat pantai itu mengalami air surut, ia melihat jejak kaki di sekitar pantai tersebut. Lalu beberapa hari kemudian ia kembali lagi dan melihat didalam bekas jejak kaki tersebut terdapat gumpalan garam.

Dari peristiwa yang dilihat oleh Syekh Angga Suto tersebut, beliau berinisiatif untuk mengajari para penduduk di desa Pinggir Papas mengenai cara membuat garam. Akhirnya, dari peristiwa tersebut para penduduk mempunyai kebiasaan untuk membuat garam. Sehingga daerah tersebut terkenal sebagai penghasil garam.


“Untuk menghargai jasa dari Syekh Angga Suto yang telah mengajari cara membuat garam tersebut, masyarakat Sumenep selalu mengadakan upacara selamatan atau syukuran atas panen garam yang membawa nikmat dan upacara ini disebut dengan upacara nyadar (nyedher) atau nadir,” pungkas Nardi. (sum)