- - - -
Facebook  Twitter  Google+

10/03/2015

Dinkes Sampang Kurang Merata Fogging Lokasi, Kelurahan Rongtengah Diserang DBD


lintasmaduranews - Keganasan penyebaran virus nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) yang menyerang ratusan warga di Kabupaten Sampang semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, deman yang bisa mematikan tersebut kini telah menyerang pemukiman padat penduduk, yakni di kelurahan Rongtengah Kecamatan Kota Sampang.

Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat kurang proaktif dan dirasa kurang merata untuk melakukan Fogging.

"Kalau menurut saya, Fogging yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) melalui dinas yang bersangkutan kurang mas, terbukti di Kelurahan Rongtengah khususnya di pemukiman padat penduduk sekitar Gua lebar tidak pernah sama sekali tersetuh oleh Fogging, sehingga saat ini warga disana mulai terserang DBD," ujar M.Ari salah satu warga Kelurahan Rongtengah, Senin (9/3/2015).

Sementara itu salah satu bukti lagi jika DBD masih menyerang warga Sampang, juga dengan penuhnya ruang anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sampang. "Saat ini ruang anak baik kelas 1 maupun kelas 3 full, adapun di pavilun mas jika mau masuk RSUD," terang Endang kepala ruang anak RSUD Sampang saat dikonfirmasi melalui jaringan telepon.

Saat disingung terkait jumplah penderita DBD yang masuk. Endang mengatakan hingga saat ini masih banyak meski dibandingkan pada bulan lalu yang cenderung menurun.

" Ya kalau sampai sekarang masih ada yang masuk karena terserang DBD, akan tetapi sudah menurun dibandingkan bulan kemarin.

Sekedar diketahui, semenjak Selasa (3/2/2015) lalu Kabupaten Sampang dinyatakan dalam kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal itu diungkapkan oleh Sekertaris Dinas Kesahatan Kabupaten Sampang, Asrul Sani. Menurut Asrul, sejak awal bulan Januari 2015 hingga awal bulan Februari penderita DBD terus meningkat hingga mencapai 146 orang, baik yang ditangani oleh Puskesmas maupun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.

Dari 146 kasus penderita Demam Berdarah dengue (DBD), paling dominan diderita oleh anak usia antara 5 tahun hingga 15 tahun. (beritajatim)