- - - -
Facebook  Twitter  Google+

26/03/2015

Disbudparpora Sumenep Membentuk Pokdarwis di Pulau Giliyang


lintasmaduranews - Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Pulau Giliyang yang akan dikembangkan menjadi lokasi wisata kesehatan.

"Pada tahun ini, pemerintah daerah memang fokus untuk mengembangkan Pulau Giliyang sebagai lokasi wisata kesehatan. Salah satu yang kami lakukan untuk program itu adalah membentuk pokdarwis di Pulau Giliyang," ujar Kabid Budaya dan Pariwisata Disbudparpora Sumenep, Sukaryo di Sumenep, Kamis (26/3/2015.

Pulau Giliyang adalah salah satu pulau berpenghuni di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang merupakan wilayah salah satu kecamatan daratan, yakni Dungkek.

Di Pulau Giliyang terdapat dua desa, yakni Desa Bancamara dan Desa Banraas, dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekitar 8.000 jiwa.

Sejak beberapa tahun lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkab Sumenep berusaha mengembangkan Pulau Giliyang sebagai lokasi wisata kesehatan.

Maklum, sesuai hasil penelitian LAPAN yang bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep pada 2006, kandungan oksigen di Pulau Giliyang, pada kisaran 3,3 persen hingga 4,8 persen di atas normal.

"Untuk pembangunan infrastruktur di Pulau Giliyang sebagai lokasi wisata kesehatan akan dilakukan oleh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lainnya," kata Sukaryo, menerangkan.

Ia menjelaskan, pihaknya lebih fokus menyiapkan ketersediaan dan pembinaan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung terwujudnya Pulau Giliyang sebagai lokasi wisata kesehatan.

"Ketersediaan pokdarwis di Pulau Giliyang merupakan hal penting. Mereka nantinya menjadi elemen penting untuk menggugah kesadaran warga lainnya untuk ikut mendukung terwujudnya Pulau Giliyang sebagai lokasi wisata kesehatan sekaligus bisa menjadi pemandu bagi wisatawan," ujarnya, menambahkan.

Perjalanan darat dari Kecamatan Kota (Ibu Kota Sumenep) ke Dungkek, tepatnya ke dermaga rakyat Dungkek, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan mobil.

Setelah itu, perjalanan dilanjutnya dengan naik perahu motor dan membutuhkan waktu pada kisaran 45 menit hingga 60 menit dalam kondisi cuaca laut kondusif. (antarajatim)