- - - -
Facebook  Twitter  Google+

11/03/2015

Inilah Tanggapan Kepala Kantor Kemenag Sumenep Terkait Pungli Aksioma




lintasmaduranews - Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Sumenep, Madura, Jawa Timur Moh. Sodiq mengaku tidak ada pungutan liar dalam program aksioma (Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga). Moh. Sodiq mengaku dana yang diberikan lembaga sebatas sumbangan yang disepakati oleh lembaga.

"Jadi, sumbangan itu sudah disepakati oleh lembaga dalam musyawarah awal. Tapi, malah mencuat sekarang bukan saat sebelum kegiatan," kata mantan Kasubag TU Kankemenag Sumenep ini, Rabu (11/3/2015)

Dia mengungkapkan, program Aksioma itu tidak ada anggarannya di pusat. Makanya, menggunakan dana dari sumbangan lembaga. "Sumbangan itu bisa menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). BOS bisa digunakan untuk peningkatan mutu, termasuk Aksioma ini,"  ujarnya.

Menurut Sodiq, kegiatan aksioma itu sudah sesuai dengan prosedur. "Masalah Annuqayah tidak ikut serta, bagi kami tidak masalah. Yang jelas aksioma ini masih berjalan sesuai rencana," ungkapnya dengan nada datar melalui sambungan telepon.

Sebelumnya Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1 Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep Madura, Jawa Timur K. Farid Hasan memprotes kantor kementerian Agama (Kankemenag) Sumenep. Alasannya, pihak meminta Kemenag meminta sumbangan kepada lembaga untuk lembaga pelaksanaan lomba Ajang Kompetensi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) 2015.

K. Farid Hasan menjelaskan, mengatakan, acara Aksioma 2015  sangat memberatkan lembaga, sebab masih memungut sumbangan. Sumbangan yang diminta ke lembaga itu sekitar Rp 10.000 untuk siswa (MTs), dan Rp 16.000 Madrasah Aliyah (MA). "Biaya itu persiswa, jadi cukup besar akhirnya. Aneh, mengapa buat kegiatan tapi masih mau minta sumbangan," katanya.

K. Farid Hasan mengungkapkan, jumlah siswa MTs di An-Nuqayah mencapai 1940 siswa. Dengan begitu pihaknya harus mengeluarkan Rp 19,4 juta dengan asumsi per sisw 10 ribu. Sedangkan untuk MA jumlah siswanya1840 orang, jika dikalikan Rp 16 ribu maka hasilnya mencapai Rp 27,6 juta. "Maka dana yang kami keluarkan untuk dua lembaga sebesar  Rp 47 juta. Kami tidak punya uanh sebanyak itu, ini sangat tidak rasional," ujarnya.

Pengasuh PP Annuqayah daerah Nirmala ini menjelaskan, dengan pertimbangan yang matang, akhirnya disepekato untuk tidak ambil bagian dalam kegiatan. "Kami memilih tidak ikut saja. Namun, kami selalu ditegur sama KKM (Kelompok kerja madrasah). Hal itu membuat kami tidak, tapi kami tidak punya dana sebanyak itu," ujarnya.

Menurut K. Farid Hasan dengan kondisi ini pihaknya merasa tidak kerasan berada dibawah naungan  kemenag. Sebab, selalu dibebani sumbangan-sumbangan yang tidak rasional. Lembaga yang ada di An-Nuqayah ini adalah swasta yang tidak mempunyai  uang banyak. "Lantas kami harus mendapatkan dari mana untuk membayarnya," ucapnya.

K.Moh.Naqib Hasan, Ketua Biro Madaris Pesantren An-Nuqayah, menjelaskan, memang kemungkinan pindah naungan itu menjadi hal lebih baik. Sebab, sudah tidak betah berada di bawah naungan yanh mengekang dengan sumbanhan. Maka harus cari rumah baru. "Jika pindah naungan akan menjadi kebaikan bagi lembaga madrasah di An-Nuqayah, kenapa tidak dan pihaknya menyetujui yang penting bisa mengayomi," pungkasnya.

Kepala Kemenag Sumenep Moh. Sodiq belum bisa dikonfirmasi terkait masalah ini. Saat madurazone mendatangi kantornya yang bersangkutan tidak ada ditempat. (madurazone)