- - - -
Facebook  Twitter  Google+

18/03/2015

Pembantai di Desa Ketawang Sempat Dicegah Puasa Senin dan Kamis


lintasmaduranews - Muti'ullah (35), warga Desa Ketawang Larangan, Kecamatan Ganding, Sumenep, pembacok adik kandung, sepupu dan bibinya sempat dicegah pamannya, agar Muti'ullah menghentikan puasa sunnah Senin dan Kamis.

Namun Muti'ullah, tidak mau mendengarkan saran pamannya. Ia menganggap puasa tiap Senin dan Kamis yang dijalani tidak akan membawa efek buruk bagi dirinya. Sebaliknya, halitu akan mempertebal imannya dalam melaksanakan ibadah.

Karena terus bersikukuh, baik paman dan keluarganya pasrah terhadap tindakan Muti'ullah untuk terus puasa Senin dan Kamis.
Pamannya melarang bukan tanpa sebab. Setelah berpuasa sunnah selama 40 hari tanpa putus, Muti'ullah mulai berperilaku aneh.

“Saya sudah pernah melarang pelaku, agar tidak melanjutkan puasa tiap Senin dan Kamis secara terus-menerus. Sebab, jika tidak kuat berakibat fatal dan tidak baik pada dirinya sendiri, maupun pada keluarganya. Tapi larangan saya justru tidak digubris. Malah ia mengaku tidak akan terjadi apa-apa,” kata H Roqib, paman pelaku, Selasa (17/3/2015).

Bahkan H Roqib, pernah menjelaskan panjang lebar mengenai dampak negatif puasa sunah Senin dan Kamis, yang sedang dilakukan ponakannya. Ia juga mengingatkan kepada keponakannya, bila melaksanakan puasa tersebut tanpa guru pembimbing bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dikatakan, semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia pada 2009 lalu, Muti’ullah dan Maimunah (30), istri pelaku, menjadi ayah sekaligus ibu bagi adik-adiknya.

Dua adik pelaku yakni Ghufron alias Moyo (27) korban, dan Istianah (18), hidup bersama dalam satu keluarga, dan pelaku beserta istrinya sebagai bapak ibunya dalam keluarga mereka.
Namun belum sempat adik-adiknya puas menikmati kasih sayang dari kakak tertuanya itu, peristiwa berdarah sudah mewarnai rumah tangga mereka. Muti’ullah malah membacok Ghufron adik kandungnya saat tidur pulas dikamar.

Dalam peristiwa berdarah tersebut, tidak hanya Ghufron yang menjadi sasaran keberingasan pelaku, melainkan Hj Qurratul Uyun (32) sepupunya, Hj Maisaroh (45) bibinya, serta Abdul Gani, penjual kopi, juga tidak luput dari sasaran parang pelaku.

Akibatnya, mereka harus dilarikan ke rumah sakit daerah (RSD) dr. Moh. Anwar Sumenep, untuk mendapat perawatan medis. Sedangkan pelaku, mendekam di sel tahanan polres untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Kapolres Sumenep, AKBP Rendra Radita Dewayana, akan mendatangkan psikiater dari Polda Jatim, untuk mengetes kejiwaan pelaku. Hal itu karena pernyataan pelaku dengan keterangan saksi di lapangan berbeda jauh.

“Insyaallah dalam waktu dekat kami akan mendatangkan tim ahli atau psikiater dari polda Jatim, untuk mengetes kondisi kejiwaannya. Karena keterangannya pada polisi sangat berbeda dengan keterangan saksi dilapangan,” pungkas Kapolres Sumenep AKBP Rendra Radita Dewayana, melalui Humas Polres AKP Jaiman. (surya)