- - - -
Facebook  Twitter  Google+

19/03/2015

Tolak Hukuman Mati, Parlemen Uni Eropa Tetap Hormati Kebijakan Indonesia


lintasmaduranews - Parlemen Uni Eropa menegaskan bahwa mereka tidak turut campur dan sangat menghormati demokrasi yang terjadi di Indonesia. Namun demikian, Uni Eropa tetap menentang segala bentuk hukuman mati.

"Kami menerima dan menghormati demokrasi di Indonesia tapi memang kami, Uni Eropa menentang hukuman mati," ujar Ketua Delegasi Parlemen Uni Eropa Werner Langen di Kantor Delegasi Uni Eropa, Intiland Tower, Jaksel, Rabu (18/3/2015).

Langen menambahkan bahwa para delegasi juga mendiskusikan hukuman mati ini kepada DPR ketika mereka bertandang ke Gedung DPR pada Selasa (17/3/2015). "Kami melakukan diskusi terkait hukuman mati dengan parlemen Anda dengan sangat mendalam ketika kami berkunjung kesana kemarin," lanjutnya.

Selain dengan DPR, 6 orang delegasi Parlemen Uni Eropa juga mendiskusikan hukuman mati ini bersama Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi. Menurut Langen, Indonesia akan lebih baik jika tidak menerapkan hukuman mati.

"Kalau untuk imajinasi kami, Indonesia akan lebih baik dan bagus tanpa hukuman mati," tambahnya.

Menurut Uni Eropa, HAM harus dijunjung tinggi dan Uni Eropa sudah melakukan itu. Terbukti Latvia sebagai negara terakhir yang memberlakukan hukuman mati pada tahun 1996.

Hari ini merupakan kunjungan mereka yang terakhir karena mereka telah berada di Indonesia sejak 16 Maret 2015. Sebelumnya pada pagi hari para delegasi Parlemen Uni Eropa telah menemui Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama di Balai Kota dan mereka sangat terkesan dengan Ahok.

"Gubernur DKI Anda orangnya dinamis dan kami sangat menerima perkembangan Jakarta sekarang," tutupnya. (detik)