- - - -
Facebook  Twitter  Google+

26/07/2015

Jubir JK: Penataan Speaker Masjid untuk Peningkatan Kualitas Umat

lintasmaduranews - Kritik Slamet Effendy Jusuf tentang kebijakan Dewan Masjid Indonesia (DMI) membentuk Tim pemantau loudspeaker, dinilai kurang paham maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Tim pemantau DMI adalah bagian terkecil dari sebuah proyek besar yang sedang dikerjakan DMI.

"Dasar berpikir dan misi dakwahnya jelas dan strategis bagi pengembangan dakwah Islam. Selama ini, para Dai berceramah atau khotbah di masjid masjid, acap kali tidak terdengar dan dicerna dengan baik oleh jamaah akibat kualitas sound system, akustik dan cara penempatannya yang keliru," ujar Jubir Wapres RI Husain Abdullah dalam keterangannya, Sabtu (26/7/2015).

Menurut Husain, sebuah masjid yang tampak megah dengan loudspeaker mahal dan bagus tapi pemasangannya tidak tepat, akhirmya tidak menghasilkan suara yang baik. Di saat seorang ustad sudah berbusa busa berceramah, menghabiskan waktu di mimbar namun pesannya tidak sampai berlalu ibarat angin, jamaah cuma ngantuk bahkan merasa bising karena sound system dalam masjid yang tidak tertata dengan baik.

"Kalau begini jelas yang rugi adalah umat Islam yang datang ke masjid buat salat dan dengar ceramah tapi tidak tercapai misinya dengan baik," imbuhnya.

Oleh karena itu, lanjut Husain, di sinilah manfaat dari tim DMI, bukan cuma memantau yang di dalam tetapi juga loudspeaker luar untuk mengetahui kualitas suara dan jangkauannya. Sehingga suara antara satu masjid dengan masjid yang lain bisa terjadi harmoni.

"Saat ini untuk keperluan tersebut DMI telah melatih 700 orang lebih teknisi dan menyiapkan 100 unit mobil teknis. Tiap mobil berisi 3 teknisi: elektrik, sound system dan kebersihan. Mereka akan keliling melatih pengelola pengelola masjid. Sebaiknya selain mengeritik akan lebih bagus jika berpartisipasi memberi bantuan, sebab masih dibutuhkan ribuan tenaga relawan terlatih untuk melayani 800 ribu masjid dan musala se-Indonesia," tuturnya.

Husain mengatakan, Slamet Effendy Jusuf atau siapapun, juga keliru besar kalau menuduh JK, tidak suka dengan pengeras suara. Yang benar JK inginkan suara masjid lebih harmoni, syahdu dan berkualitas agar dakwah bisa sampai dengan baik kepada ummat. Kalau ceramah dapat didengar dengan baik, maka bisa jadi ilmu yang bermanfaat bagi jamaah.

"Bahkan secara tidak langsung masjid-masjid dapat berfungsi sebagamaina pesantren. Bayangkan saja kata Pak JK andaikan ceramah memiliki kurikulum yang jadi acuan para muballig untuk berimprovisasi, mungkin akan lahir kader-kader Islam yang terdidik dari masjid layaknya dari perguruan tinggi," jelasnya.

Husain menilai Slamet Effendy Jusuf juga harus jujur dan objektif bahwa seruan penataan speaker mesjid bukan hanya datang dari DMI atau JK sendiri. Justru upaya ini tidak henti hentinya disuarakan atau dipelopori ulama ulama NU.

"Mari kita sesekali  membuka  situs situs resmi NU, semua juga menyerukan agar loudspeaker mesjid ditata. Bahhan Gus Dur sejak tahun 1982 sudah menulis di Tempo tentang pentingnya menata speaker masjid agar tidak bising dan tumpang tindih. Aneh kalau Slamet Effendy Jusuf sendiri tidak melihat upaya tersebut justeru tumbuh dan diperjuangkan oleh kaum Nahdiyyin lingkungan di mana Slamet Effendy Jusuf dibesarkan," paparnya.

Upaya penataan loudspeaker inipun punya landasan hukum, karena sejak tahun 1978 Dirjen Bimas Islam Depag telah mengeluarkan Instruksi Nomor KEP/D/101/1978 Tanggal 17 Juli 1978 Tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Musala. Artinya bukan barang baru di Indonesia dan memiliki dasar hukum.

"Kalau Pak JK jangan lagi diragukan kecintaanya kepada mesjid termasuk untuk hal-hal kecil seperti loudspeaker. Di Indonesia ini belum pernah ada yang membangun menara masjid untuk tempat loud speaker setinggi yang pernah dibuat Pak JK tahun 1994 silam yakni menara Mesjid Al Markaz yang tingginya mencapai 90 meter," kata Husain.

Menara yang terinspirasi oleh menara Mesjid Nabawi di Medinah. Bahkan tidak banyak diketahui publik, jika setiap tahun Yayasan Kalla membagi bagikan ribuan speaker ke mesjid masjid dan musala agar kualitas soundnya bagus dan pembagian itu masih berlangsung sampai saat ini.

"Soal pemicu insiden Tolikara, siapapun yang ditanya apa pemicu keributan di Tolikara pada saat kejadian, akan menyebut loudspeaker. Apakah dia Slamet Effendy Jusuf, Shodiw Mujahid atau Abdul Mu'ti, tentu akan percaya meyakini informasi aparatnya masing masing di lapangan," jelasnya.

Karena itulah laporan pertama dan tercepat yang diterima dari aparat terbawah di lapangan dan termasuk Kapolda Papua. Karena mereka yang dari Jakarta, belum satupun ke lokasi.

"Wartawan yang bertanya kepada Pak JK menyebutkan dalam pertanyaannya; bagaimana tanggapan Pak JK atas pernyataan Kapolda Papua bahwa pemicu keributan di Tolikara adalah suara loudspeaker? Lalu dijawab Pak JK, bahwa dirinya mendapat informasi jika loudspeaker menjadi penyebabnya," kata Husain.

"Kepada wartawan Pak JK menjelaskan selaku Wapres, itulah pentingnya untuk saling memahami dan menahan diri serta membuka dialog agar peristiwa seperti itu tidak terjadi. Dan Pak JK meminta agar penegakan hukum dalam penyelesaiannya dikedepankan," tutupnya. (detik)