- - - -
Facebook  Twitter  Google+

29/08/2015

Konsep Kota Selawat dan Dzikir Belum Jelas, Kyai dan Dewan Bangkalan Bingung

lintasmaduranews - Bupati Bangkalan, RK. Muh Makmun Ibnu Fuad menandatangani Surat Keputusan Kota Bangkalan sebagai Kota Dzikir dan Solawat. Deklarasi tersebut dilakukan dihadapan puluhan ribu warga yang terdiri dari santri, ulama, pengasuh pondok pesantren, serta perwakilan berbagai ormas Islam se-Kabupaten Bangkalan, di Alun-Alun Kota setempat, Jum’at (28/8/2015) kemarin.

“Deklarasi Bangkalan sebagai Kota zikir dan Shalawat ini merupakan keinginan masyarakat dan ulama Bangkalan,” kata Ra Momon, panggilan akrab Bupati Termuda di Indonesia itu.

Menurutnya, Dzikir dan shalawat akan menggerakkan hati ke arah yang lebih baik dan memperkuat nilai-nilai keagungan Allah. Sehingga bisa memupuk kerukunan dan persaudaraan.

 “Saya atas nama Bupati Bangkalan sekaligus kaum muda pesantren berkomitmen memberikan identitas dan jati diri Bangkalan sebagai Kota Dzikir dan Shalawat. Saya berharap ini bisa menjadikan dorongan untuk pribadi muslim yang berhati lembut, berakhlak mulia, bersih dari penyakit batin, bisa diampuni segala dosanya,” tegas Ra Momon.

“Mudah-mudahan dengan niatan mengharap Ridho Allah SWT bisa menjadikan Bangkalan sebagai daerah yang diidam-idamkan semua orang menuju Baldatun Thoyyibatun War Robbun Ghofur,” harapnya.

Sementara itu, Fakhrillah aschal yang juga turut hadir, menyatakan, dengan di cetuskannya Bangkalan sebagai, kota dzikir dan sholawat. Bisa membawa keberkahan kabupaten bangkalan, sehingga terhindar dari segala musibah dan bencana.

“Dengan dzikir dan Sholawat ini, bisa membawa kedamaian masyarakat bangkalan. Sebagaimana peran Syehkhona Kholil dalam memperbaiki Akhlaq umat menjadi akhlakul karimah,” tadansnya.

Namun demikian, implementasi dari SK tersebut belum jelas sehingga DPRD Bangkalan dan para kyai bingung mengenai konsep Kota Dzikir dan Solawat.

"Kami belum menerima drafnya. Kami menunggu draf itu dari pihak pesantren yang mengusulkan," kata Anggota DPRD Bangkalan, Imron Rosyadi, Sabtu (29/8/2015).

Imron mendukung usulan masyarakat agar SK Bupati itu dijadikan peraturan daerah (perda) seperti yang dituntut santri, kyai, dan ulama Bangkalan. "Kami dukung, tapi apakah nanti menjadi perda atau tidak, kita lihat prosesnya," kata Imron.

Toyib Fawad Muslim, salah seorang tokoh yang mengusulkan perda, mengaku masih mendiskusikan usulan itu dengan kyai dan ulama di Bangkalan.

"Teknisnya masih kita diskusikan, yang jelas kami minta ada SK Bupati terkait ini, baru setelah itu kami minta pengesahan perdanya," ujar Toyib.

Toyib berharap, disahkannya SK Bupati itu bisa mengurangi perilaku negatif di masyarakat, seperti maraknya peredaran narkoba serta meningkatnya praktek begal dan kriminal.

Senin, 24 Agustus, lalu, ribuan santri dan kyai mendatangi gedung DPRD Bangkalan. Mereka menuntut anggota legislatif membuat perda terkait pencanangan Bangkalan sebagai kota selawat dan zikir. Sayangnya, hingga saat ini, tak ada kejelasan konsepnya.