- - - -
Facebook  Twitter  Google+

05/08/2015

Pemilihan Rais Aam PBNU Disepakati Sistem AHWA

lintasmaduranews - Meski sudah mendingin pascapernyataan sikap Pj Rais 'Aam KH Mustofa Bisri dalam sidang tata tertib, tetapi sidang Komisi Organisasi saat membahas sistem pemilihan Rais 'Aam memanas lagi. Pokok permasalahannya kembali soal Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Sidang komisi A yang membahas soal Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) digelar di PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar, sekitar 4 km dari ruang sidang utama di Alun-alun Jombang. Dibanding sidang komisi lain yang digelar di 3 pesantren di Jombang, Komisi A paling alot, karena sampai Selasa (04/08/2015 sore belum juga selesai, sedang lainnya sudah selesai pada siang.

Sampai diskors pukul 17.00, pembahasan baru sampai pasal 40, padahal AD/ART mencapai 104 pasal.

Bunyi Pasal 40 sebagai berikut, 1. Pemilihan dan penetapan PBNU: A. Rais 'Aam dipilih secara langsung melalui musyawarah mufaat dengan asistem AHWA. B. AHWA terdiri 9 ulama yang dipilih secara langsung oleh muktamirin. C. Kriteria ulama/kiai yang diplih sebagai AHWA adalah berakidah Ahlussunah wal Jamaah Annahdliyaa, bersikap adil, alim, miliki integritas moral, tawadhu, berpengarujh,  miliki pengaruh untuk memilih pemimopin, munaim dan muharrik (penggerak) serta wara' (alim) dan zuhud (tidak cinta dunia).

Saat membahas pasal ini sidang banjir interupsi, para muktamirin berebut untuk bersuara. "Membahas satu pasal ini saja sudah lebih dari satu jam belum selesai," kata Drs H Zaenuri MPd, Ketua Tanfidziyah PCNU Salatiga.

Pro kontra terutama menyangkut perlu tidaknya AHWA dimasukkan dalam AD/ART. Namun akhirnya mengerucut pada tetap perlunya masuk AD/ART, tetapi pemberlakuannya mulai Muktamar ke-34 lima tahun mendatang. Meski sudah mengerucut dan tinggal menyusun redaksionalnya, namun hujan interupsi masih saja terjadi karena banyaknya muktamirin yang ingin berbicara.

"Kami peserta dari Solo setuju AHWA dimasukkan AD/ART, tetapi pelaksanaannya mulai muktamar mendatang, bukan sekarang," kata Ketua Tanfidziyah PCNU Solo, Hilmy Ahmad Sa'diyah.

Hal senada disampaikan H Zaenuri dari Salatiga. Menurutnya, untuk menerapkan sistem AHWA perlu banyak persiapan. Syarat menjadi AHWA juga berat. "Untuk itu setelah muktamar ini perlu sosialisasi, kemudian Konferensi Besar NU (Konbes) NU perlu menyusun Peraturan Organisasi (PO) untuk bisa dilaksanakan. Jadi tidak bisa dipaksakan sekarang," kata Zaenuri.

Setelah mengalami perdebatan cukup panjang, sidang syuriah PCNU - PWNU untuk menentukan mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU periode 2015 - 2020 akhirnya disepakati menggunakan  sistem AHWA

Hasil voting, sebanyak 252 peserta setuju sistem AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi) atau sistem musyawarah mufakat dengan perwakilan. Sedangkan tidak setuju AHWA sebanyak 235 orang. Sementara yang abstain sebanyak 9 orang. Jumlah total 496 suara.

"Dengan hasil itu, untuk menentukan Rais Aam dalam Muktamar ke-33 ini menggunakan AHWA. Tadi jumlah peserta sidang sekitar 500 orang. Namun ada yang keluar karena kecapekan," ujar pimpinan sidang yang juga Sekretaris SC (Steering Comite), Yahya Staquf, Selasa (4/8/2015) malam.

Sidang syuriah tersebut berjalan cukup alot. Sehingga memakan waktu sekitar 12 jam. Mulai pukul 9.00 WIB dan berakhir pukul 21.00 WIB. Alotnya persidangan itu masing-masing peserta mempertahankan pendapatnya. Yakni antara setuju dan tidak setuju AHWA.