- - - -
Facebook  Twitter  Google+

17/08/2015

Sarungan, Ponpes Salafiyah Syaichona Cholil Gelar Upacara HUT RI

lintasmaduranews - Ribuan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syaichona Cholil, Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur mengikuti upacara peringatan HUT ke-70 RI di halaman pondok pesantren, Senin (17/8/2015).

Uniknya, peserta upacara tidak memakai celana panjang dan sepatu layaknya pelajar lain yang ikut upacara. Para santri justru memakai sarung dan bakiak ketika mengikuti upacara kemerdekaan. Tak pelak suara bakiak terdengar ketika santri ingin mengibarkan Bendera Merah Putih.

Meski begitu, pelaksanaan upacara tersebut berlangsung lancar dan khidmat. Semua peserta tampak serius mengikuti upacara walaupun sinar matahari menyengat pada tubuhnya.

"Hari ini kami menggelar upacara bendera dalam menyambut hari kemerdekaan," terang Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syaichona Cholil, KH Nasich Aschal.

Menurut ra Nasih -sapaan akrab Nasich Aschal- dengan adanya upacara bendera, pihaknya ingin menanamkan semangat NKRI kepada para santri, sehingga semakin menumbuhkan rasa nasionalisme di diri para santri.

"Upacara ini diikuti sekitar 5 ribu santri, baik putra maupun putri, namun tempatnya terpisah. Untuk santri putra di halaman belakang, sedangkan santri putri di halaman depan,” ucapnya.

Ia menlanjutkan, meraih kemerdekaan tidaklah mudah, tidak semudah menggelar upacara rutin setiap 17 Agustus. "Para pejuang memeras pikiran dan tenaga. Meninggalkan keluarga demi tercapainya cita - cita bangsa. Semoga jiwa dan pikiran para pejuang selalu terpatri dalam diri kita," singkatnya.

Usai upacara, pria yang akrab disapa Ra Nasih itu mengatakan, momentum Hari Kemerdekaan harus dijadikan bahan refleksi untuk evaluasi memperbaiki diri sebagai anak bangsa yang cinta tanah air.

"Kalau sekarang korupsi malah menjadi hal yang biasa. Padahal, para pejuang susah payah untuk mengusir para penjajah hanya untuk merebut dan memproklamirkan kemerdekaan negeri ini," katanya.

Menurutnya, ia sengaja menggelar upacara dengan menggunakan sarung dan memutuskan tiga santri pengibar bendera menggunakan bakiak, sebagai bentuk kesederhanaan.

"Keederhanaan bukanlah penghambat untuk mencapai kemerdekaan. Bambu runcing, kaki tanpa alas, dan minimnya pasokan makanan tidak menyurutkan tekad pejuang mengusir penjajah," paparnya.