- - - -
Facebook  Twitter  Google+

11/09/2015

Hasil Survei : Pertarungan Busyro-Fauzi dan ZA-Eva Imbang

lintasmaduranews - Sebuah lembaga survei bermarkas di Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, yang mengaku independen, Kamis (10/9), merilis analisa politik mereka dari hasil penelitian selama 25 Agustus-5 September 2015.

“Sumenep, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura tapi selalu menarik untuk dicermati dinamika politiknya. Terlebih ketika di periode pemilukada serentak (se-Indonesia) 2015 ini dengan diterapkannya UU Pilkada Nomor 1 Tahun 2015 yang diikuti dengan PKPU No 1-12 Tahun 2015,” ungkap Andri Riswandi, pimpinan lembaga survei itu.

Menurut Andi, yang menarik dicermati adalah majunya A. Busyro Karim sebagai calon bupati incumbent dalam Pemilukada Sumenep 2015 itu, dan penantang tunggalnya yakni Zainal Abidin (ZA), mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Provinsi (Bappeprov) Jawa Timur. Di mana ‘pertarungan’ antara keduanya mnyajikan tontonan intrik politik yang cukup seru.

“Awal yang menarik adalah bagaimana ZA yang dikenal dekat dengan Pakde Karwo (Gubernur Jawa Timur, Soekarwo) menjadi kuda hitam yang berhasil menggagalkan pencalonan bacabup (bakal calon bupati) yang lebih dulu masuk ke bursa pemilukada, yaitu HM. Sahnan, dengan memborong Kursi dewan sebagai syarat pencalonan,” tuturnya.

Lebih lanjut Andi menjelaskan, langkah awal ZA itu, terbilang cerdik karena analisa politik mereka menggambarkan, sulit mengalahkan Buya – sebutan Andi bagi A. Busyro Karim – jika gerakan anti-Buya terpecah menjadi 2 kelompok pendukung.

“Namun dengan kekecewaan karena merasa dijegal, ternyata HM. Sahnan yang tadinya diharapkan memperkuat gerakan anti-Buya ini, ternyata justru berbalik berusaha membelokkan pendukungnya ke Buya. Nah, bagaimana pengaruhnya?” ujar Andi.

Guna menjawab pertanyaan itu, Andi bersama lembaga surveinya melakukan jajak pendapat terhadap seribu responden yang tersebar di 27 kecamatan se-Sumenep. Metode survei yang digunakan, kata Andi, adalah wawancara tatap muka; dan multistage random sampling, sebagai metode sampling.

“Salah satu tujuan survei ini adalah mengetahui popularitas (tingkat pengenalan), like-abilitas (tingkat kesukaan), dan elektabilitas (tingkat keterpilihan) calon kepala daerah,” terang dia.

Hasil jajak pendapat itu menunjukkan, Busyro ternyata lebih dikenal masyarakat Sumenep, ketimbang ZA. Menurut hasil survei, dari seribu responden tersebut, 99,1 persen menyatakan kenal Busyro. Sedangkan yang menyatakan kenal ZA hanya 81,5 persen.

Tapi di bagian lain, ZA ternyata lebih disuka oleh warga Sumenep. Berdasarkan hasil survei, 86,7 persen dari seribu responden menyatakan, menyukai ZA. Sementara yang menyukai Busyro hanya 77,7 persen. Meski demikian, dari tingkat pengenalan dan tingkat kesukaan itu, elektabilitas Busyro secara personal mengungguli ZA. Elektabilitas Busyro 45,6 persen, dan elektabilitas ZA 38,9 persen.

Untungnya, ZA menggandeng Hj Dewi Khalifah sebagai calon wakil bupati. Sebab berdasarkan hasil survei itu, tingkat pengenalan dan tingkat kesukaan terhadap Nyai Eva, panggilan akrab Hj Dewi Khalifah jauh lebih tinggi jika dibandingkan Achmad Fauzi, pasangan Busyro.

Jajak pendapat terhadap 1.000 responden tentang Nyai Eva menyatakan, 93,3 persen mengenal dia, dan 89,1 persen menyukainya. Sedangkan terhadap Fauzi, hanya 58,2 persen yang menyatakan kenal dia, dan cuma 33,3 persen yang menyukainya.

Angka-angka itu membuat elektabilitas Nyai Eva (60,7 persen) jauh mengungguli Fauzi (20,8 persen). Elektabilitas Nyai Eva bahkan mengungguli elektabilitas calon bupati incumbent, Busyro Karim.

“Sementara, secara pasangan, paslon (pasangan calon) ZA-Eva jadi 52,3 persen. Itu jika tanpa swing voter (calon pemilih yang belum menentukan pilihan). Sementara elektabilitas pasangan Buya-Fauzi hanya sebesar 47.7 persen,” beber Andi.

Hal itulah yang menurut dia merupakan salah satu kecerdikan ZA dalam berstrategi melawan Busyro. ZA yang notabene bukan dari trah kyai dapat menggandeng Nyai Eva yang seorang ustazah dan Ketua PC Muslimat NU Sumenep sekaligus mantan rival berat Busyro pada Pemilukada Sumenep 2010.

Meski demikian, Andi berkesimpulan, “pertarungan antara paslon nomor urut 1 (Busyro-Fauzi) dan paslon nomor urut 2 (ZA-Eva) bisa dibilang merupakan pertarungan yang berimbang dan pasti akan berlangsung seru.”