- - - -
Facebook  Twitter  Google+

14/09/2015

Kabut Asap Lumpuhkan Pendidikan di Jambi

lintasmaduranews - Bencana asap membawa petaka. Tak hanya bagi kesehatan, juga masa depan pendidikan anak-anak di Jambi. Sudah satu bulan ini mereka diliburkan.

"Diliburkan pak, ya disebutnya belajar di rumah. Asap masih pekat ini," terang Andri, Senin (14/9/2015).

Dua anak Andri tak bisa bersekolah. Asap masih menyelimuti kota. "Sudah tiga minggu ini libur," tambah dia.

Anak-anak akhirnya hanya diam di rumah. Mereka bila keluar beraktivitas mesti memakai masker.

"Nggak tahu sampai kapan ini asap. Nggak bisa juga anak-anak main di luar," imbuh warga Kota Jambi ini.

Andri berharap, tindakan tegas segera dilakukan. Jangan sampai bencana yang rutin datang setiap tahun ini terus berulang. Anak-anak, generasi muda menjadi korban.

"Cukup sudah pak. Semoga segera ada penanganan, jangan sampai terulang lagi," tutup dia.

Semantara itu, hasil satelit Terra/Aqua pagi ini, Senin (14/9/2015). Pantuan satelit, ada 982 sebaran titik panas. Ini menjadi angka tertinggi sejak dua bulan terakhir. Sepertinya sejumpah provinsi yang ada di Sumatera sudah kelabakan untuk menyelesaikan kebakaran lahan.

Dari jumlah tersebut, Sumsel urutan teratas dengan 618 titik panas. Menyusul Jambi 184, Riau 55, Lampung 48, Babel 46, Kepri 2, Sumbar 18.

"Dari jumlah tersebut, 70 persen merupakan titik panas," kata Kepala BMKG Pekanbaru, Sugarin.

Kini, imbas dari kebakaran, jarak pandang sudah benar-benar di bawah ambang normal. BMKG menyebutkan, di Pekanbaru hanya tebus 80 meter, Kota Rengat, Inhu 80 meter, Kota Dumai 50 meter dan Kabupaten Pelalawan juga 50 meter.

Semetara itu, indeks standar pencemaran udara (ISPU) yang terpajang di kota Pekanbaru menunjukan level berbahaya.

Partikel debu sudah melampau batas cukup 300 PM. Namun hari ini partikel debu sudah mencapai  940 PM. Partikel debu kebakaran sudah tidak bisa ditolelir lagi untuk kesehatan warga.