- - - -
Facebook  Twitter  Google+

20/09/2015

Masjid Agung Sumenep dan Wasiat Aria Asirudin Natakusuma


lintasmaduranews - Masjid Agung Sumenep merupakan peninggalan sejarah Keraton Sumenep. Secara administrative Masjid Agung Sumenep masuk dalam desa Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur. Masjid ini seluas 100m x 100m dilengkapi dengan bangunan sekretariat, bangunan pesanggrahan kiri dan kanan, bangunan toilet dan tempat wudhu serta tempat parkir.

Masjid Agung Sumenep dibangun setelah selesainya pembangunan Kraton Sumenep, pembangunan Masjid ini digagas oleh Adipati Sumenep ke 31, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Sumolo (berkuasa tahun 1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan Masjid yang lebih besar, untuk menampung jemaah yang semakin bertambah. Bangunan Masjid yang ada saat itu dikenal dengan nama Masjid Laju, dibangun oleh adipati Sumenep ke 21 Pangeran Anggadipa (berkuasa tahun 1626-1644 M) sudah tak lagi memadai kapasitasnya untuk menampung jemaah.

Arsitek bangunan Masjid Agung Sumenep adalah Lauw Piango. Lauw Piango adalah cucu Lauw Khun Thing dari Cina yang datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M). Proses pembangunan Masjid dimulai tahun 1198 H (1779M) dan keseluruhan proses pembangunannya selesai pada tahun 1206H (1787M). Mengenai Masjid Angung Sumenep, Pangeran Natakusuma berwasiat yang ditulis pada tahun 1806 M, wasiatnya yaitu;

“Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”

Arsitektural Masjid Agung Sumenep sepertinya memang sengaja dirancang oleh Arsiteknya waktu itu dengan menggabungkan berbagai unsur budaya. Arsiteknya yang ber-etnis Tionghoa turut menorehkan unsur budaya China pada seni bina bangunan Masjid ini. Seni Arab, Persia, Jawa, India dan China menjadi satu kesatuan yang utuh pada bangunan Masjid Agung Sumenep ini.

Bangunan utama Masjid di tutup dengan atap limas bersusun. Atap limas bersusun atau berundak, susunan atap seperti ini selain merupakan ciri khas bangunan di tanah Jawa yang menggunakan atap joglo tapi juga merupakan bentuk atap yang banyak dipakai pada bangunan klenteng yang biasa menggunakan atap bersusun. Di ujung tertinggi atap bangunan dipasang mastaka berbentuk tiga bulatan.

Pintu Gerbang utama yang dibangun di Masjid ini banyak dipakai di bangunan bangunan penting negeri China dan India, di dua negeri itu bangunan gerbang tidak semata mata sebagai pintu masuk utama tapi juga merupakan pos penjagaan. Bangunan ini cukup besar dan megah, dengan ruangan di atasnya, bisa jadi pada jamannya ruang ini merupakan tempat menyimpan beduk dan kentongan serta tempat muazin mengumandangkan azan. Sehingga wajar bila kemudian ruang di atas gerbang ini yang difungsikan layaknya menara. Gerbang Masjid Agung Sumenep ini benar-benar menyita perhatian karena bentuknya yang begitu besar dan megah.

Ukiran Jawa dalam pengaruh berbagai budaya menghiasai 10 jendela dan 9 pintu besarnya. Bila diperhatikan dengan seksama, ukiran ukiran yang ada di pintu utama Masjid ini sangat kental pengarus budaya China, dengan penggunaan warna warna cerah. Ukiran dengan nada yang serupa akan banyak di jumpai di daerah Palembang yang seni arsitekturalnya juga dipengaruhi cukup kuat oleh budaya China. Disamping pintu depan mesjid sumenep terdapat jam duduk ukuran besar bermerk Jonghans, diatas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara arab dan Jawa.

Sentuhan budaya China terasa lebih kental pada mihrab Masjid. Uniknya Masjid ini memiliki dua mimbar disisi kiri dan kanan mihrabnya. Hiasan keramik porselen warna biru cerah dengan corak floral mendominasi dua mimbar dan mihrab di Masjid ini. Dilihat dari coraknya kemungkinan besar keramik porselen tersebut di import dari daratan China. Bangunan bersusun dengan puncak bagian atas menjulang tinggi mengingatkan bentuk-bentuk candi yang menjadi warisan masyarakat Jawa. Kubah berbentuk tajuk juga merupakan kekayaan alami pada desain masyarakat Jawa.

Sekitar tahun 90-an Masjid ini mengalami pengembangan, dengan renovasi pada pelataran depan, kanan dan kirinya, dengan sama sekali tidak mengubah bangunan aslinya.  Di dalam mesjid terdapat 13 pilar begitu besar yang mengartikan rukun solat. Bagian luar terdapat 20 pilar dan dua tempat khotbah yang begitu indah dan di atas tempat Khotbah tersebut terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Awalnya pedang tersebut terdapat dua buah namun salah satunya hilang dan tidak pernah kembali.

Sehari-hari Masjid Agung Sumenep selalu ramai, banyak masyarakat Sumenep yang shalat di dalamnya, terutama masyarakat pedagang di Toko tingkat yang ada di depan sebelah kiri Masjid Agung. Selain pedagang di Toko Tingkat, Pedagang di sekitar Taman Bungan juga Shalat berjamaah ke Masjid ini, apalagi kalau bularan Ramadhan. Tidak hanya masyarakat lokal, wisatawan dari daerah luar Madura juga sering singgah, selain Shalat, mereka menikmati indahnya Masjid Agung Sumenep. (Pusawi)