- - - -
Facebook  Twitter  Google+

07/10/2015

Butuh Duit, Siswi SMA Ini Jual Diri Lewat BBM

lintasmaduranews - Berawal dari informasi masyarakat, Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Gresik membongkar prostitusi online melibatkan pelajar SMA. Polisi juga mengamankan seorang mucikari, WPS (20), warga Jl RA Kartini, Gresik, di homestay, Jl Arif Rahman Hakim, Kecamatan Gresik.

Di lokasi, polisi menemukan dua cewek, DAF (18), warga Bandaran, Jl Harun Tohir, Desa Pulopancikan, Kecamatan Gresik dan GP R (19), warga Jl Veteran, Kecamatan Kebomas bersama dua pria hidung belang. Kedua cewek ini mengaku dikenalkan tersangka WPS kepada pria hidung belang.

“Kita tetapkan seorang tersangka yaitu WPS selaku mucikari. Barang bukti tiga telepon seluler dan uang Rp 3 juta,” kata Kapolres Gresik AKBP Ady Wibowo, Selasa (6/10/2015).

Saat itu Ady didampingi Wakapolres Kompol Indra Mardiana dan Kasat Reskrim AKP Iwan Hari Poerwanto. WPS mengaku menjalani jasa prostitusi online baru sebulan dan baru pertama kali menerima order pria hidung belang.

“Awalnya saya ditawari oleh laki-laki yang tidak dikenal untuk mencarikan wanita yang mau menemani tidur. Satu orangnya saya diberi fee Rp 500.000," kata WPS, yang sehari-hari bekerja di Salon kawasan Jl RA Kartini.
WPS mengaku menjalani bisnis haram itu karena salonnya sepi. Ia juga mengungkapkan kedua cewek ini butuh duit untuk keperluan sehari-hari. Akhirnya WPS pun menawarkan kedua cewek tersebut ke pria hidung belang melalui BlackBerry massanger (BBM).

"Saya lihatkan foto-fotonya oke. Kemudian saya antar ke homestay depan di Jl Arif Rahman Hakim,” imbuhnya.

Tarif ditawarkan untuk dua cewek ini tergolong tinggi. Sekali kencan Rp 1,5 juta. “Satu juta bersih untuk anak-anak. Dan fee untuk saya Rp 500.000,” ujar WPS.

Dua gadis yang ditawarkan itu, salah satunya masih duduk di bangku kelas III SMA swasta di Kota Gresik yaitu DAF. Sedangkan GPR sudah lulus dan telah bekerja.

“Mereka mengaku butuh duit. Satu untuk kebutuhan sekolah karena jauh dari orang tua dan tinggal bersama neneknya. Satu lagi beralasan untuk pemasangan sambungan pipa PDAM,” kata WPS yang tidak lulus SMK.

Atas perbuatannya, WPS dikenakan pasal berlapis; Pasal 88, Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.


Selanjutnya dia juga dijerat Pasal 2, Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun.