- - - -
Facebook  Twitter  Google+

23/11/2015

Inilah Komentar DPRD Pamekasan Terkait Penggabungan SD

lintasmaduranews - Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pamekasan menilai pelayanan pendidikan di kabupaten tersebut masih lemah sehingga Pemerintah setemtat mengeluarkan kebijakan penggabungan terhadap Sekolah Dasar. Penilaian ini diungkapkan Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan, Apik.

Menurutnya, dinas pendidikan (Disdik) terjun langsung terhadap sekolah yang cenderung kekurangan siswa untuk menghindari regrouping. Dengan keterlibatan disdik, maka jumlah siswa di SD Negeri itu yang terus berkurang bisa dicegah, bahkan bisa jadi siswa yang masuk SD Negeri kian meningkat dari sebelumnya.

“Tentu keterlibatan ini dibarengi dengan mempelajari lebih dulu, kenapa di sekolah itu jumlah siswanya berkurang dan tersedot dengan lembaga pendidikan lain di luar disdik,” kata Apik, Minggu (22/11/2015).

Selain itu, disdik  juga harus menelurkan resepnya terhadap sekolah yang mulai krisis siswa dengan berkaca pada sekolah yang menjadi rebutan siswa. Sebab, banyak juga SD Negeri jumlah siswanya membeludak hingga melebihi pagu sekolah.

Dikatakan, sekolah yang banyak diserbu siswa itu, bisa jadi kualitas pendidikannya bagus, guru pengajarnya mumpuni dan dilengkapi fasilitas.

Selain itu diperlukan pihak guru turun ke masyarakat dan jemput bola untuk meyakinkan orang tua, agar anak-anaknya dimasukkan ke sekolah itu.

Diakui, regrouping dalam lembaga pendidikan itu penting untuk menyelamatkan siswa, namun langkah ini tidak selamanya mendapat sambutan baik orang tua.

Kepala Bidang (Kabid) SD Disdik Pamekasan, Prama Jaya mengatakan, kebijakan regrouping itu juga untuk kebaikan siswa dan guru pengajarnya, sebab anggaran di SD Negeri itu membengkak dan tidak efisien jika standar pelayanan minimum (SPM) sudah tidak memenuhi.

“Regrouping ini kami lakukan untuk memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik buat siswa. Dan bagi SD yang sudah ditutup, gurunya bebas mencari SD yang masih kekurangan guru pengajar,” kata Prama Jaya.

Seperti diberitakan, sekitar 25 siswa dan wali murid SD Negeri Kaduara Barat II, unjuk rasa di teras sekolah.

Mereka menolak sekolahnya ditutup dan siswanya digabung ke SD Negeri Kaduara Barat III, Kecamatan Larangan, Pamekasan, yang berjarak sekitar 900 meter ke arah selatan, dari sekolahnya pada Kamis (19/11/2015) lalu.(surya)