- - - -
Facebook  Twitter  Google+

23/11/2015

Tidak Mendapat Bagian Nasi, Kader HMI Rusak Mobil Polisi

lintasmaduranews - Kepolisian Resor Kota Pekanbaru dibuat kerepotan dengan ulah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) asal Makassar. Sejak tiba di Pekanbaru, para kader HMI itu malah membuat kerusuhan di pusat kota. Mereka memenuhi badan jalan dan membakar ban, merusak fasilitas umum. Bahkan terakhir mereka mengamuk dan merusak mobil polisi hanya gara-gara tidak kebagian nasi bungkus.

"Sempat terjadi kesalahpahaman sedikit saat bagi-bagi nasi, mereka marah dan memukul mobil dinas Kasatlantas," kata Wakil Kepala Polresta Pekanbaru Ajun Komisaris Besar Sugeng Putut Wicaksono, sebagaimana dirilis tempo, Minggu (22/11/2015.

Putut menceritakan, peristiwa terjadi saat polisi membagikan nasi bungkus kepada rombongan kader HMI. Rombongan itu tidak mendapat kamar di penginapan Purna MTQ, Jalan Jenderal Sudirman. Namun saat itu ada sejumlah anggota rombongan yang belum mendapat nasi. Mereka marah lalu memukul mobil polisi. "Mobil penyok," ujarnya.

Putut menyayangkan perilaku mahasiswa tersebut. Menurutnya, kepolisian sudah berbaik hati memberikan makanan untuk para kader yang terlantar itu. "Ini inisiatif kami agar mereka tidak berbuat rusuh," kata Putut.

Menurut Putut, polisi sudah menanggung makan kurang lebih 2.000 kader HMI dari Sabtu malam, 21 November 2015. Saat itu sempat terjadi kerusuhan lantaran massa kecewa dengan panitia yang tidak menyediakan akomodasi dan makanan. Massa kemudian melampiaskan kemarahan dengan merusak fasilitas umum dan membakar ban di badan jalan sehingga terjadi kemacetan panjang di jalan protokol.

Putut mengatakan, massa memang telihat sangat kelelahan dan kelaparan seusai melakukan perjalanan jauh dari Makassar selama 5 hari menggunakan kapal laut. Tiba di Pekanbaru, massa tidak mendapat pelayanan yang baik dari panitia. Untuk meredam emosi massa, polisi akhirnya membelikan 2.500 bungkus nasi untuk mahasiswa.  "Kami menyayangkan ketidaksiapan panitia dalam menyambut kadernya," kata Putut.

Namun persoalannya kata dia, tidak ada kesepakatan antara panitia dengan kader yang terlantar itu. Panitia menganggap mereka adalah rombongan liar yang tidak ada dalam daftar peserta kongres. "Makanya tidak ada konsumsi dan penginapan," ujarnya. (tempo)