- - - -
Facebook  Twitter  Google+

21/11/2015

Tuntut Beri Sanksi Penodong Pisau, PMII Segel STKIP

lintasmaduranews - Sejumlah aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan aksi unjuk rasa ke kampus STKIP PGRI Sumenep, Jumat (20/11/2015).  Dalam aksinya PMII meminta ketegasan sikap dari kampus STKIP terkait kasus penodongan salahsatu mahasiswa terhadap kader PMII Sumenep.

Massa aksi berangkat dari Sekretariat Komisariat PMII STKIP PGRI Sumenep  di Desa Gunggung berjalan kaki menuju kampus STKIP di Jl. Trunojoyo Gedungan Sumenep, pukul 14.00 WIB. Sambil berorasi dan membawa bendera PMII serta  poster yang berisi tuntuntan-tuntutan kepada pihak STKIP. 

“Sahabat-Sahabati, mari kita menuju kampus STKIP untuk meminta ketegasan pihak STKIP terkait dengan kasus premanisme berupa penodongan senjata tajam yang dilakukan salah satu mahasiswa STKIP terhadap Sahabati Ulifiyah,” ajak korlap aksi, Imam Arifin.
Sampai di pintu masuk kampus STKIP, massa tidak masuk kampus, melaikan meminta pihak kampus STKIP untuk menemuinya di depan pintu.

“Kepada Ketua STKIP, kami mengharap keluar dan menemui kami di sini (depan pintu) untuk menindaklanjuti tuntutan kami yang kemarin. Kami Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia meminta secara tegas kepada pihak STKIP agar bersikap tegas terhadap kasus premanisme dan mendeskreditkan institusi PMII. Sesuai tuntutan kami yang kami sampaikan kemarin dengan jangka waktu 1x 24 jam. Seharusnya STKIP sudah meneyelesaikannya, namun STKIP tidak tegas dalam hal ini,” kata orator aksi dengan sura lantang.

Imam dalam orasinya juga menyinggung soal hasil MoU yang telah dibuat antara STKIP dan PMII saat kasus 2012 lalu. Sebab di MoU itu sudah jelas bahwa jika kasus serupa terjadi kembali, maka STKIP harus mengeluarkan dan melaporan pelaku ke pihak kepolisian. “Jika tidak, jangan salahkan kami jika datang kembali dengan massa yang lebih besar,” kata Imam.

Untuk menanggapi tuntutan massa PMII, pihak kampus STKIP keluar pintu dan menemui demonstran dengan mengatakan bahwa tuntutan PMII akan ditindaklanjuti bahkan masih dalam proses pengumpulan saksi-saksi oleh Komisi Disiplin.

“Tentu kasus ini akan ditindaklanjuti, tidak akan dibiarkan begitu saja, namun sampai saat ini masih dalam proses, jadi mohon kesabarannya dari Sahabat-Sahabati PMII,” kata Mulyadi, Wakil Ketua II  STKIP.

Dilanjutkan oleh Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Khoirul Asiah, bahwa pihak kampus STKIP telah berusaha untuk menyelsaikan kasus tersebut, namun keputusannya masih menunggu Ketua STKIP yang tengah menghadiri suatu acara di luar kota.

“Kami melakukan langkah-langkahuntuk menyelesaikan persoalan ini melalui Komisi Disiplin. Dan hari ini pun kami sampai detik ini pun itu masih menggodok dan akan menghadirkan beberapa saksi. Kami masih memanggil Tiwi, Ulif dan Khalilurrahman. Saksi-saksi yang terkait dengan kasus yang kemarin masih kita akan panggil ini juga untuk menyelesaikan masalah.Mengani rekomendasi sanksi apa yang akan diberikan belum selesai. Kami sertus persen atas nama pimpinan dan juga Tim Komisi Disiplin akan bertanggung jawab dan akan menyelesaikan. Dan saya minta kesediaan waktunya hari Senin pagi jam tujuh sudah kita berikan,” Jelasnya.

Para demonstran menolak penyampaian Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan tersebut karena dinilai mengulur-ngulur waktu. “Tidak bisa, tidak bisa, harus sekarang,” teriak beberapa demonstran dengan suara keras sambil menyegel pintu halaman kampus STKIP, sehingga mahasiswa dan pengelola kampus STKIP tertahan di halaman kampus.

“Kalau STKIP tidak bisa tegas dalam menyelsaikan hal ini, maka kami PMII akan tetap menduduki gerbang utama dan tidak boleh ada satu orangpun yang keluar dari sini, baik itu pengelola kampus maupun mahasiswa. Dan mahasiswa yang di luar tidak boleh masuk, sebelum STKIP memberi ketegasan sikap kepada pelaku premanisme tersebut,” tegas orator aksi.

Kemudian pihak STKIP masuk ke ruangan dan merumuskan tawaran-tawaran yang akan diberikan kepada PMII. Bersamaan dengan itu, mahasiswa yang sudah lama tertahan di halaman, meminta paksa untuk diberi jalan keluar, namun tetap tidak diperbolehkan oleh PMII. Situasi di pintu utama mulai memanas.

Ketua Umum PMII Cabang Sumenep meredam situasi yang memanas itu dengan berorasi. Dalam orasinya dia mengatakan bahwa STKIP tidak serius menyelsaikan masalah tersebut dan tidak memikirkan warga PMII se Indonesia yang hatinya telah tersakiti karena adanya pelecehan terhadap organisasinya.

“Sahabat-Sahabat mahasiswa di dalam mohon tenang, ini adalah bukti bahwa pimpinan kalian itu tidak memikirkan nasib kalian. Kita PMII se- Indonesia, yang di Jakarta, Maluku, Kalimantan, Sumatra, dan ambon, ini juga sakit hati sejak terjadi pelecehan terhadap terhadap organisai kami,” tegas Khairul Umum.

Mahasiswa dan pengelola STKIP tertahan di dalam hingga pukul 17:32 WIB dan baru bisa pulang setelah pihak STKIP menyampaikan pernyataan di depan ratusan pengunjuk rasa.

Adapun pernyataan yang diberikan kepada PMII oleh pihak STKIP yaitu, STKIP menindaklanjuti permasalahan ancaman yang dilakukan saudara Khalilurrahman kepada Ulifiyah,  STKIP berjanji akan memberi keputusan persoalan tersebut paling lambat hari Senin tanggal 23 November 2015 pukul 09:00 WIB.

Setelah mendengar pernyataan tersebut, korlap aksi mengintruksikan membukakan pintu untuk mahasiswa dan pengelola kampus. Kemudian massa aksi membubarkan diri menuju Sekretariat Komisariat PMII STKIP dengan tertib dan dalam pengawalan polisi setempat.