- - - -
Facebook  Twitter  Google+

28/12/2015

Pembuat Terompet Berbahan Al-Qur'an Dari Solo Didesak Minta Maaf

lintasmaduranews - Menjelang tahun baru 2016 beredar terompet berbahan baku Alquran di alfamart. Peredaran terompet tersebut diketahui pada Minggu, 27 Desember 2015, pukul 16.00.WIB. Mulanya, temuan itu dilaporkan oleh seorang Kiai Kresno Abrory, seorang Tokoh NU dari Kebondalem, Kota Kendal.

Sebagaimana dimuat di viva.com, Senin, (28/12/15).
 ia melaporkan bahwa ada satu Mini Market Alfamart di Kebondalem menjual terompet yang terbuat dari sampul Alquran. Sampul itu berwana hijau bertuliskan Kementerian Agama RI tahun 2013 dan sebuah kaligrafi Arab bertuliskan Alquran.

Kepala Kepolisian Resor Kota Semarang, Komisaris Besar Polisi Burhanudin, menyatakan kasus terompet dari Alquran ini kini ditangani oleh pihak Ditreskrimum Polda Jawa Tengah. Bahkan setelah dilakukan pendalaman, polisi kini telah mengetahui identitas para pelakunya.

"Itu (terompet dari Alquran) diproduksinya di Solo. Pelaku sudah diketahui," ujar Burhanudin di Semarang, Senin, (28/12/15).

Meski diproduksi di Solo, kata Burhanudin, terompet yang hampir tersebar di Mini Market Alfamart di Kendal itu didistribusikan melalui sebuah gudang di kawasan Wijaya Kusuma, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Daerah tersebut diketahui merupakan wilayah yang memang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kendal.

Hingga saat ini, sedikitnya ada 21 minimarket di Kendal yang memasarkan terompet-terompet terlarang tersebut.

Beredarnya terompet tersebut mendapat respon dari Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah. Pihaknya mendesak agar para pelaku pembuat terompet dari Alquran di Kendal, Jawa Tengah meminta maaf.

 "Penyelesaiannya, mereka cukup minta maaf. Kalau yang bikin tidak tahu (hukum), ya bagaimana lagi. Mungkin mereka tidak tahu dan paham soal agama," kata Ketua Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Abu Hafsin di Semarang,Senin, (28/12/15).

Abu sendiri mengaku telah mendengar ihwal penjualan terompet berbahan Alquran itu beberapa waktu terakhir. Namun, pihaknya enggan berspekulasi terkait adanya unsur kesengajaan dalam penyebaran terompet menyambut malam Tahun Baru 2016 berlafal Alquran nul karim ini. "Jadi kalau saya enggak usah diproses hukum. Saya yakin karena mereka tidak tahu kalau itu Alquran," kata Hafsin.

Meski demikian, kasus tersebut bisa menjadi pelajaran bersama tentang bagaimana menghargai kitab suci umat Islam. Meski ada sebagian yang memahami bahwa yang dinamakan kalam Allah itu bukanlah bentuk fisik (mushaf) Alquran, tapi penghargaan fisik Alquran sangat penting artinya.

"Apapun itu adalah kalamullah, penghargaan terhadap isi dan fisik. Karena Alquran itu suci. Memang boleh dijadikan apapun, tapi penghargaan terhadap fisik penting," ujar Hafsin menjelaskan.

Ia berpandangan, sebagian besar ulama bahkan melarang mushaf Alquran digunakan untuk fungsi lain. Karena hal itu dianggap merendahkan fisik Alquran sekaligus isi yang terkandung di dalamnya.

"Banyak masyarakat tidak paham, bahwa penghargaan juga terhadap fisik. Kalau mau berpikir logis, hukum pun kita harus menghargai. Kalau tidak menghargai hukum maka kita tidak menghargai fisik hukum." paparnya.