- - - -
Facebook  Twitter  Google+

01/01/2016

80 Orang Meninggal Dunia Akibat Kecalakaan Lalu Lintas di Sumenep

lintasmaduranews - Kecalakaan lalu lintas terjadi di Kabupaten Sumenep, akkibatnya 80 orang meninggal dunia, luka berat 4 orang, dan luka ringan 125 orang.

Jumlah korban kecalakaan sebanyak itu darri 115 peristiwa kecelakaan
sepanjang tahun 2015 di berbagai tempat di Kabupaten Sumenep.

"Dari 115 kejadian laka lantas tersebut, terdapat korban meninggal dunia 80 orang, luka berat 4 orang, dan luka ringan 125 orang. Sedangkan total kerugian materi sebesar Rp 433.349.900," kata Kapolres Sumenep, AKBP Rendra Radita Dewayana, Kamis (31/12/2015).

Ia memaparkan, ada pergeseran tempat kejadian perkara (TKP) laka lantas tersebut, yakni tidak lagi di jalur 'black spot' atau mulai Prenduan hingga Nambakor-Saronggi, melainkan di wilayah pedesaan. Penyebabnya mayoritas karena 'human error'.

"Laka lantas terbanyak melibatkan sepeda motor dan penyeberang jalan. Biasanya penyeberang jalan kurang memperhatikan situasi lalu lintas karena faktor lanjut usia, sementara pengendaranya juga melaju dengan kecepatan tinggi," ujarnya.

Selain itu, lanjut Rendra, faktor kondisi jalan juga turut andil menyumbang tingginya angka kecelakaan lalu lintas di luar 'black spot'. Misalnya kurangnya penerangan jalan, minimnya rambu-rambu, serta kondisi jalan yang bergelombang maupun turunan tajam.

"Pengendara yang melintas rata-rata kurang memperhatikan kondisi jalan dan melaju dengan kecepatan tinggi. Ini yang sering menyebabkan terjadinya kecelakaan," ucapnya.

Ia memaparkan, untuk jumlah kejadian laka lantas di jalur 'black spot', terjadi penurunan. Dalam 6 bulan terakhir, terjadi 3 kali kecelakaan di wilayah prenduan. Satlantas telah melalukan berbagai upaya untuk menekan angka laka lantas di jalur 'black spot'.

"Untuk 'black spot', kami memang memberikan perhatian khsus, yakni dengan memasang papan himbauan agar pengendara waspada. Kemudian kami turun langsung dengan Dinas Perhubungan untuk melakukan evaluasi, rambu-rambu mana yang perlu diusulkan untuk ditambah, mengingat jalan di wlayah 'black spot' merupakan jalan nasional," ungkapnya.

Sedangkan untuk menekan angka kecelakaan di wilayah pedesaan, imbuh Rendra, pihaknya mengaktifkan fungsi unit Dikyasa untuk melakukan sosialisasi kelalulintasan. "Sosialisasi itu dilakukan bekerja sama dengan kepala desa maupun aparat desa, agar bisa menyentuh langsung mansyarakat pedesaan," ucapnya.

Sumber : beritajatim