- - - -
Facebook  Twitter  Google+

06/01/2016

Presiden Obama Menangis Teringat Banyaknya Korban Penembakan Brutal

lintasmaduranews - Presiden AS Barack Obama meneteskan airmata saat mengingat banyaknya anak-anak yang menjadi korban penembakan massal di Amerika. Hal tersebut yang melatarbelakangi dirinya memperketat aturan kepemilikan senjata di AS.

Dilansir dari Reuters, Rabu (6/1/2015) dalam pidato di Gedung Putih, suara Obama meninggi cenderung berteriak sambil mengatakan bahwa hak konstitusional warga AS untuk memegang senjata harus diseimbangkan dengan hak untuk beribadah, menikmati kedamaian dan hidup hidup mereka.

Obama telah sering mengatakan waktu yang paling sulit adalah pada Desember 2012 saat terjadi pembantaian 20 anak-anak dan 6 orang dewasa di sebuah Sekolah Dasar di Newtown, Connecticut.

"Setiap kali saya berpikir tentang anak-anak, itu membuat saya marah," kata Obama dengan air mata yang mengalir di pipi.

"Itu mengubah saya, hari itu," katanya, setelah diperkenalkan oleh Mark Barden, yang putranya 7 tahun tewas dalam penembakan itu. "Harapan saya dengan sungguh-sungguh bahwa itu akan mengubah negara," katanya.

Sesuai komitmennya, Obama memperketat aturan pemeriksaan latar belakang calon pembeli senjata api, dalam serangkaian langkah untuk mengatasi kekerasan bersenjata. Ketetapan yang terdiri dari 10 langkah tersebut diumumkan pada Senin malam oleh Gedung Putih antara lain, semua penjual harus memiliki izin dan melakukan pemeriksaan latar belakang, membatalkan berbagai pengecualian selama ini yang diberlakukan untuk berapa penjualan online dan pameran senjata.

Selain itu, negara harus memberi informasi mengenai orang yang tidak diperbolehkan membeli senjata karena gangguan mental atau kekerasan dalam rumah tangga. FBI akan meningkatkan jumlah petugas pemeriksaan latar belakang sebanyak 50% dan mempekerjakan lebih dari 230 penguji baru

Presiden Obama mengatakan hal ini setelah mendapat rekomendasi dari Jaksa Agung Loretta Lynch, Direktur FBI James Comey dan pejabat aparat penegak hukum lainnya.