- - - -
Facebook  Twitter  Google+

22/02/2016

Foto-Foto Wanita Berpakaian Bikini di Bangkalan Hebohkan Ulama dan Warga

lintasmaduranews - Warga Kabupaten, Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur (Jatim) kini tengah dihebohkan dengan foto - foto sejumlah wanita berpakaian bikini yang menari di panggung dan berenang di kolam Goa Pote (Gua Putih), Desa Jaddih, Kecamatan Socah.

Kehebohan ini berawal dari postingan akun Facebook Cong Tain Saleh pada Minggu (21/2/2016) malam.
Postingan itu menampilkan sejumlah gambar wanita berpakaian bikini di tempat wisata tersebut.

Dalam keterangan foto tersebut, akun ini lalu menuliskan, "Upload saya sebelumnya sudah diblokir,,, hanya sampaikan fakta bahwa ini terjadi di lokasi wisata Madura,, tak perloh (perlu) ke surabaya tretan (sodara)..."
Postingan ini lalu memantik reaksi yang beragam dari netizen. Komentar pengguna internet sebagian besar menyayangkan foto tersebut.

"Mari kita lawan bersama agar tidak mengotori dan menambah parah BANGKALAN KOTA SHALAWAT DAN DZIKIR", tulis pemilik akun FB Ishak Junaidi.

Pengguna yang lain, Siti Qomariyah Ahlan, berkomentar singkat, "Duuuh ya Allah".

Di kolom komentar, Cong Tain Saleh juga sempat mengklarifikasi dengan menulis "Sang pengelola bilang: kmr (kemarin) ada pemotretan dan pengambilan iklan. Lalu mreka2 (mereka-mereka) turun ke kolam dan beraksi. Jdi (Jadi) bukan pengelola yg (yang) mengundang...."

Menanggapi polemik tersebut, Pemilik kolam renang Goa Pote (Goa Putih) H Mustofa (50), warga Desa Parseh, Kecamatan Socah mengaku kecolongan.

"Kami kecolongan dan itu bukan acara kami. Itu adalah pengunjung bukan satu paket dengan musik elekton," ungkap H Mustofa saat di konfirmasi di kolam renang Goa Pote, Senin (22/2/2016).

Pesona kolam renang yang berada di lokasi alam perbukitan kapur memang menjadi pesona baru dan tengah diusulkan menjadi ikon baru wisata alam. Sepuluh ribu lebih pengunjung berdatangan di hari - hari libur.

Keberadaan model - model itu, dijelaskan H Mustofa untuk melakukan sesi pemotretan di area perbukitan.
Sejak keberadaan kolam itu, perbukitan yang dikenal dengan Gunung Jaddih itu memang sering dipilih komunitas fotografer bersama para modelnya sebagai latar pemotretan.

"Di bukit ada pemotretan untuk iklan salah satu produk. Setelah itu, (para model) mereka turun ke kolam dan berjoget di panggung," jelasnya.

Setiap hari libur, pihak pengelola selalu menyediakan suguhan musik elekton untuk menghibur pengunjung. Bahkan, lomba karaoke tingkat Madura pernah digelar di area kolam.

"Sekali saya tegaskan, itu bukan acara kami. Kalau lomba karaoke, kami pernah mengadakan. Pemenangnya ditampilkan di setiap hari libur," ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan model - model itu di atas panggung dan di kolam tidak bertahan lama. Tak lebih dari 10 menit sebelum akhirnya keluar dari area kolam.

"Kejadian ini menjadi pelajaran. Saya menerima kritikan yang bersifat konstruktif. Ke depan, saya akan memperketat pengawasan dan lebih selektif terhadap busana - busana pengunjung," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, akan dipasang sejumlah Closed Circuit Television (CCTV) di pintu masuk dan area kolam renang guna memaksimalkan pengawasan.

"Saya tengah mengusulkan ke Pemkab Bangkalan agar lokasi ini bisa menjadi ikon baru wisata alam di perbukitan," tambahnya.

Mengetahui ada foto-foto wanita yang hanya memakai pakaian bikini, Ulama Bangkalan melalui organisasi Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor bereaksi dengan melayangkan surat protes kepada Polres dan Bupati Bangkalan.

RMI NU Bangkalan melalui surat bernomor 01/PC-RMINU/II/2016 meminta Polres Bangkalan melakukan penertiban dan memberikan peringatan keras terhadap pemilik, pengelola, dan pihak - pihak yang terlibat dalam kegiatan itu.

Selain itu, RMI NU Bangkalan meminta polres meninjau ulang keberadaan izin operasional kolam renang. Mendesak agar kejadian tersebut tidak terulang kembali.

"Kami menyayangkan kegiatan itu bisa terlaksana tanpa ada satupun yg memberi tegoran. Terutama dari pihak pengelola," ungkap Ketua PC RMI NU Bangkalan KH Nasih Aschal, Senin (22/2/2016).

Ia mendesak Pemkab Bangkalan segera segera merespon atas kegiatan itu dan memberi sangsi tegas sebelum permasalahan ini mendapat respon langsung dari masyarakat.

"Pemerintah dan aparat kepolisian diharapkan memberikan perhatian lebih terhadap isu- isu sosial ataupun keagaaman demi kondusifitas Bangkalan," paparnya.

Sedang GP Ansor Cabang Bangkalan melalui suratnya bernomor 070/PC/SP-01/11/2016 menyatakan, mengecam keras kegiatan tersebut lantaran dapat merusak moral masyarakat Bangkalan dan harus dihentikan.

"Mohon agar Pemkab Bangkalan bertindak tegas. Jika dalam waktu 2x24 jam protes ini tidak diindahkan, maka GP Ansor dan elemen masyarakat Bangkalan akan mengambil tindakan," tegas Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Bangkalan KH Hasani Zubair.

Seperti diketahui, pemilik Kolam Renang Goa Pote H Mustofa telah mengklarifikasi keberadaan model-model itu bukan atas undangan pihaknya.

"Bukan kami yang ngundang. Mereka hanya melakukan sesi pemotretan di atas bukit tak jauh dari kolam. Setelah itu turun dan berenang," ujar Mustofa.

Atas kejadian itu, ia mengaku kecolongan dan akan lebih meningkatkan pengawasan serta lebih selektif terhadap pakaian pengunjung kolam.

"Saya menerima segala kritik yang bersifat konstruktif yang disampaikan masyarakat Bangkalan Itu pelajaran bagi saya," jelasnya.

Menanggapi hal itu, Pemilik kolam renang Goa Pote (Goa Putih) H Mustofa (50), warga Desa Parseh, Kecamatan Socah mengaku kecolongan dengan keberadaan sejumlah model berbikini joget di panggung dan berenang.

"Kami kecolongan dan itu bukan acara kami. Itu adalah pengunjung bukan satu paket dengan musik elekton," ungkap H Mustofa saat di konfirmasi di kolam renang Goa Pote, Senin (22/2/2016).

Pesona kolam renang yang berada di lokasi alam perbukitan kapur memang menjadi pesona baru dan tengah diusulkan menjadi ikon baru wisata alam. Sepuluh ribu lebih pengunjung berdatangan di hari - hari libur.

Keberadaan model-model itu, dijelaskan H Mustofa tengah melakukan sesi pemotretan di area perbukitan. Sejak keberadaan kolam itu, perbukitan yang dikenal dengan Gunung Jaddih itu memang sering dipilih komunitas fotografer bersama para modelnya sebagai latar pemotretan.

"Di bukit ada pemotretan untuk iklan salah satu produk. Setelah itu, (para model) mereka turun ke kolam dan berjoget di panggung," jelasnya.

Setiap hari libur, pihak pengelola selalu menyediakan suguhan musik elekton untuk menghibur pengunjung. Bahkan, lomba karaoke tingkat Madura pernah digelar di area kolam.

"Sekali saya tegaskan, itu bukan acara kami. Kalau lomba karaoke, kami pernah mengadakan. Pemenangnya ditampilkan di setiap hari libur," ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan model - model itu di atas panggung dan di kolam tidak bertahan lama. Tak lebih dari 10 menit sebelum akhirnya keluar dari area kolam.

"Kejadian ini menjadi pelajaran. Saya menerima kritikan yang bersifat konstruktif. Ke depan, saya akan memperketat pengawasan dan lebih selektif terhadap busana - busana pengunjung," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, akan dipasang sejumlah Closed Circuit Television (CCTV) di pintu masuk dan area kolam renang guna memaksimalkan pengawasan.

"Saya tengah mengusulkan ke Pemkab Bangkalan agar lokasi ini bisa menjadi ikon baru wisata alam di perbukitan," pungkasnya. (surya)