- - - -
Facebook  Twitter  Google+

12/02/2016

Guru Ngaji Pelaku Sodomi Dikenal Alim dan Paham Agama


lintasmaduranews - Guru ngaji, AM (50) asal Dusun Morasen, Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep yang melakukan sodomi terhadap santri-santrinya dikenal oleh warga sebagai sosok yang alim dan paham agama.

"Kami ini rasanya tidak percaya, kalau Kiai AM bisa berbuat seperti itu. Selama ini warga mengenalnya sebagai orang yang alim dan paham agama," kata salah satu warga Desa Pasongsongan, Cipto, Jumat (12/02/16).

Ia menuturkan, selain mengajar ngaji di langgar, Kiai AM juga dikenal kerap memberikan ceramah agama di kelompok-kelompok pengajian.

"Kiai AM ini rutin memberikan ceramah setiap pertemuan kelompok pengajian," ujarnya.

Karena itu, ia mengaku sangat heran mengapa Kiai AM yang ditokohkan di Pasongsongan, tega melakukan hal yang tidak bermoral.

"Apalagi korbannya ini anak di bawah umur, dan masih santrinya. Yang lebih miris lagi, sodomi itu kadang dilakukan di musala atau di langgar tempatnya mengajar mengaji," ucapnya sambil mengelus dada.

Penggerebekan terhadap AM berawal dari kecurigaan warga, karena guru ngaji ini sering mengajak santri laki-laki masuk ke dalam kamar. Warga kemudian mengintai gerak-gerik tersangka. Saat AM mengajak masuk salah satu santri ngajinya berinisial AG ke ruangan (kamar) di dekat balai desa, warga mengintip dari luar.

Kecurigaan warga semakin besar, ketika mendengar suara desahan dari dalam kamar. Saat AM dipanggil-panggil dan diminta warga untuk keluar, guru ngaji itu tidak segera keluar. Saat AM keluar kamar dan dicecar dengan pertanyaan warga, AM mengaku tidak berbuat apa-apa di dalam kamar bersama santrinya, AG.

Namun warga tidak begitu saja percaya pada pengakuan AM. Warga kemudian memanggil sejumlah santri yang diduga juga telah menjadi korban sodomi AM. Setelah korban-korban AM dihadirkan di hadapan AM dan menceritakan tentang peristiwa sodomi itu, akhirnya AM mengakui perbuatan tidak senonohnya pada sejumlah santri. AM kemudian diadili di balai desa, dan diminta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan tidak pantas itu.

Sampai saat ini ada 4 anak yang mengaku telah menjadi korban sodomi pelaku. Mereka rata-rata berusia 14-17 tahun. Dalam melancarkan aksinya, pelaku mengiming-imingi korban dengan uang dan rokok.