- - - -
Facebook  Twitter  Google+

11/05/2016

Inilah 12 Mantan Aktivis HMI yang Berubah Wujud Menjadi Koruptortaurus

lintasmaduranews - Entah kesurupan hantu balau dan setan alas jenis apa para mahasiswa yang tergabung dalam aktivis HMI siang tadi memporak-porandakan gedung KPK yang merupakan saksi bisu simbol perlawanan terhadap korupsi di negeri Zamrud Khatulistiwa ini.

Mereka menghancurkan kaca-kaca gedung KPK, tembok-tembok di siram cat, jalanan depan gedung KPK penuh dengan api yang menyala-nyala dari ban yang dibakar, Polisi pun terluka dihajar lemparan batu.
Penyebabnya sepele, para mahasiswa anak ingusan yang kencing belum lurus itu tak terima dengan pernyataan punggawa KPK Saut Situmorang yang menyatakan bahwa banyak pejabat negara yang mantan aktivis HMI yang terlibat dalam kekuasaan melakukan korupsi. 

Mungkin pihak-pihak yang turut bertanggung jawab dalam aksi biadab para mahasiswa aktivis HMI siang tadi adalah Jendral Moeldoko, Din Syamsudin, dan Mahfud MD yang selama ini terlalu vulgar melontarkan pernyataan-pernyataan ketidaksukaan mereka terkait pernyataan Saut Situmorang sehingga memicu kemarahan para aktivis mahasiswa itu. 

Padahal HMI ini adalah organisasi kemahasiswaan yang berkiblat pada keagamaan Islam. Dengan peristiwa anarkis yang memporak-porandakan aset negara mereka justru tak menunjukkan kaidah-kaidah dan kiblat dalam ajaran agama Islam yang menentang perilaku anarkis. Lantas apa bedanya dengan FPI yang tak disukai dan dibenci banyak umat muslim itu. 

Mungkin saja mereka mau mengulang kesuksesan para senior mereka Dahulu ketika menduduki gedung DPR / MPR pada tahun 1998 yang silam sehingga berhasil menumbangkan penguasa 32 tahun itu, namun para munafiqun itu lupa bahwa rakyat saat ini sudah muak dengan fenomena orang-orang yang menempatkan diri mereka sebagai Pahlawan Kesiangan. 

Jikalau mereka merasa sudah hukumnya membela yang salah maka organisasi itu tak pantas dan tak layak eksis di Bumi Pertiwi ini. Oleh karena itu wahai Handai tauladan yang terhormat, mari kita kupas satu persatu seperti halnya mengupas bawang bombay sehelai demi helai daftar kejahatan para penguasa mantan aktivis HMI yang berubah wujud menjadi koruptorsaurus di negeri gemah ripah loh jinawi ini. 

Anas Urbaningrum, merupakan mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI yang juga mantan Ketua Umum Partai Demokrat terlibat dalam kasus korupsi pembangunan stadion Hambalang di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Anas terjerat kasus hukum setelah diduga menerima hadiah atau janji suap terkait pengurusan anggaran proyek Hambalang dan atau proyek-proyek lainnya saat menjadi anggota DPR 2009-2014. 

Sebagai mantan anggota DPR, mantan ketua umum PB HMI periode 1997-1999 ini disangka melanggar pasal 12 huruf a atau huruf b dan atau pasal 11 undang-undang tentang pemberantasan Tipikor. Anas akhirnya divonis 8 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta pada 25 September 2014 hukuman Anas meningkat drastis usai Mahkamah Agung menambah hukuman menjadi 14 tahun plus denda Rp 5 miliar subsider 1 tahun 4 bulan kurungan di tingkat kasasi pada 8 Juni 2015. 

Andi Mallarangeng, tercatat sebagai aktivis HMI. Dia pernah menjabat sebagai ketua HMI komisariat Fisip Universitas Gadjah Mada Andi dijerat KPK dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Sport Center pada Kementerian Pemuda dan Olahraga kemenpora di Bukit Hambalang Bogor Jawa Barat. 

Penetapannya sebagai tersangka saat ia masih menjabat Menpora pada Kabinet Indonesia Bersatu 2 selaku pengguna anggaran tea kemenpora diduga melakukan perbuatan melawan hukum dan menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi terkait pembangunan/ pengadaan/ peningkatan sarana dan prasarana olahraga di Hambalang tahun anggaran 2010-2012. penetapan disampaikan KPK secara resmi Jumat 7 Desember 2012 Andi divonis 4 tahun penjara dan denda Rp. 200 juta. 

Akbar Tanjung, mantan ketua umum HMI ini terlibat dalam kasus korupsi dana non budgeter blog sebesar Rp 40 miliar. Mirisnya si koruptortaurus ini masih eksis dalam dunia persilatan perpolitikan regional dalam negeri sampai detik ini. 

Bustanul Arifin mantan aktivis HMI yang juga mantan kepala Bulog dan juga mantan menteri koperasi ini terlibat dalam kasus korupsi Rp 10 miliar dalam pembelian tanah milik Bambang trihatmodjo beddu Amang mantan aktivis HMI dan juga mantan kabulog ini terlibat dalam pat gulipat kasus Mega korupsi pakan ternak sebesar pakan ternak sebesar Rp 841 miliar. 

Wa Ode Nurhayati, tercatat sebagai Kader HMI yang namanya cukup familiar di Indonesia bagian timur wanita kelahiran Wakatobi Sulteng 6 November 1981 ini divonis penjara 6 tahun oleh Pengadilan Tipikor Jakarta pada Kamis 18 Oktober 2012. Politikus PAN ini terbukti menerima suap Rp 6,25 miliar dari 3 pengusaha dan pidana pencucian uang. 

Ode merupakan terdakwa kasus dugaan suap pengurusan dana penyesuaian infrastruktur daerah tahun 2011 dan tindak pidana pencucian uang yang ditangani oleh KPK. Ia sempat mengajukan banding, namun kasasi dia ditolak Mahkamah Agung dan tetap divonis 6 tahun. 

Zulkarnaen Djabar, mantan anggota Komisi 8 DPR dari Fraksi Golkar ini terjerat kasus hukum dan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas kasus dugaan korupsi pengadaan Al -Quran 2011-2012 dan laboraturium MTs tahun 2011 pada Kementerian Agama. Mantan ketua HMI cabang Ciputat ini tidak sendirian dalam kasus ini dia dijerat bersama anaknya Dendy Prasetya. Akibat perbuatannya itu Zulkarnain divonis 15 tahun sedangkan putranya dihukum 8 tahun keduanya juga didenda Rp 300 juta subsider 1 bulan kurungan penjara. Majelis hakim Tipikor Jakarta juga menjatuhkan pidana uang pengganti sebesar Rp 5,7 40 Miliar untuk mantan bendahara Partai Golkar itu. 

Abdullah Puteh, mantan Gubernur Aceh periode 2000 - 2005 ini tercatat sebagai mantan Ketua Umum HMI Cabang Bandung. Puteh dijerat Komisi Pemberantasan Korupsi dan terbukti melakukan korupsi terkait pengadaan 1 unit pesawat Helikopter type MI-2 VIP 12.00 Cabin, versi Sipil tahun 2000-2001 dari pabrik Mil Moskow Helikopter Plant Rusia senilai USD 1,250.000 atau setara dengan Rp 12,5 miliar. Politisi Partai Golkar ini sudah dijatuhi hukuman 10 tahun penjara pada 11 April 2005.Mantan anggota Majelis Pekerja Kongres PB HMI tahun 1973 - 1975 ini akhirnya diputuskan bebas bersyarat pada 18 November 2009 setelah membayar uang ganti kasus senilai Rp 500 juta. 

Beddu Amang, tersangka kasus dana pakan ternak yang merugikan negara Rp 847 miliar. Mantan Kepala Badan urusan logistik Prof. Dr Ir. Beddu Amang yang menjadi terpidana kasus tukar guling Goro dan Bulog telah membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 5 miliar. 

“Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan telah menerima uang pengganti dari beddu Amang ke kas negara yaitu uang pengganti Rp 5 miliar secara berangsur dan dilunasi pada 16 juni 2016,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (kapuspenkum) kejaksaan agung I Wayan Pesek Suartha di Jakarta Kamis petang. 

Beddu Amang selaku kepala Bulog bersama Hutomo Mandala Putra, Ricardo Gelael, dan Hakirto Dirut dan komisaris Utama PT Goro Batara Sakti menjadi pesakitan dalam kasus tukar guling pada tahun 1995 hingga 1998. Saat menjabat kepala Bulog gedung mengeluarkan dana sebesar Rp 95,407 miliar seolah-olah terjadi tukar guling kekayaan negara dan Aset pengganti berupa bangunan kantor Bulog Jaya di Kelapa Gading Jakarta Utara seluas 502 ribu meter persegi dengan tanah di Marunda Jakarta Utara seluas 712.000 M2.

Beddu Amang dijatuhi pidana 4 tahun penjara dalam putusan Mahkamah Agung pada 6 Januari 2004 karena terbukti bersalah dalam perkara tersebut. Selain pidana penjara, mantan kabulog itu juga dikenai denda Rp 5 juta subsider 1 bulan kurungan dan kewajiban membayar uang pengganti Rp 5 miliar. 

Uang denda itu telah dibayarkan pada Maret 2004. kepala LP Cipinang Gunadi pernah mengatakan Beddu Amang akan bebas murni pada 7 Maret 2007, namun Beddu Amang yang menjalani pidana di LP Cipinang Jakarta Timur sejak Januari 2004 itu telah keluar dari penahanan pada 8 Mei 2006 dengan status bebas bersyarat bebas bersyarat karena telah menjalani Dua pertiga pidananya berkelakuan baik dan ada jaminan dari keluarganya.

Selain itu penyidik tindak pidana khusus Kejaksaan tinggi Jawa Tengah menahan lima mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam HMI terkait kasus korupsi dana bantuan sosial kemasyarakatan provinsi Jawa Tengah tahun 2011.

Mereka diduga kuat membuat proposal fiktif untuk mendapatkan anggaran tersebut. Kelima tersangka adalah Aji Hendra Gautama, warga Semarang; Azka Najib, warga Demak; Agus Khanif, warga Demak; Musyafak, warga Rembang; dan Farid Ihsanudin, warga Semarang. Kecuali Farid yang merupakan alumni Universitas Semarang; para tersangka lain adalah lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. 

Hasil penyidikan sementara pada tahun 2015 itu, tersangka Azka menerima uang Rp.83 juta; Musyafak Rp.84 juta; Farid Ihsanudin Rp.65 juta; Agus Khanif Rp52 juta, dan Aji Hendra Gautama Rp.44 juta. Totalnya dana bansos yang diterima Rp.328 juta. 

LPJ (laporan pertanggungjawaban) dibuat seolah-olah ada kegiatan, padahal faktanya tidak ada. Kegiatan fiktif itu disesuaikan dengan nama LSM yang juga tidak nyata. Misalnya tentang kesehatan, mereka seolah-olah buat kegiatan pencegahan HIV/ AIDS, tapi kenyataannya tidak pernah ada. Mereka hanya berkumpul di rumah makan, lalu dipotret untuk dilampirkan di LPj. Ada pula yang seolah-olah membuat seminar di hotel, namun setelah penyidik kroscek, di hotel itu tidak pernah ada kegiatan.