- - - -
Facebook  Twitter  Google+

14/06/2016

Waspada, Ikan di Pasar Pantura Bangkalan Mengandung Formalin

 lintasmaduranews.com - Pedagang ikan di pasar sepanjang pantai utara (pantura) Bangkalan, meliputi Pasar Klampis, Pasar Sepulu, dan Pasar Banyusangkah (Tanjung Bumi), diduga memberi bahan pengawet terhadap ikan yang yang dijualnya. Dugaan tersebut berawal dari informasi yang disampaikan Ketua Komisi D DPRD Bangkalan, Hosyan kepada pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten setempat.
Pak Hosyan (Ketua Komisi D DPRDBangkalan) menelpon saya, Ia bilang istrinya goreng ikan tapi tidak mateng-mateng, makanya kami diminta memeriksa pasar di pntura," kata Kepala Bidang Farmakmin dan Gizi DinkesBangkalan Ciptaning Tekad, Selasa (14/6/2016).

Pihak Dinkes langsung melakukan pemeriksaan terhadap ikan-ikan yang dijual dibeberapa pasar di Pantura. Dari pemeriksaan tersebut, Dinkes mengambil sampel air yang dipakai oleh pedagang ikan di dalam bak. Kemudian sampel terseut diuji menggunakan tester Permaganas Kalicius (PK) dan Formagnis Kids itu, air yang semula berwarna ungu berubah menjadi putih, sebagai tanda terdapat kandungan formalin atau bahan pengawet makanan. "Kok ikan-ikan yan dijual sering dicelupin ke dalam ember. Kami curiga dan lantas memeriksanya. Ternyata benar, ada kandunganformalinnya," ungkapnya.

Ia menjelaskan, kegiatan pemeriksaan terhadap ikan-ikan hasil nelayan yang dijual di sejumlah pasar di kawasan pantura Bangkalan sejatinya bukan kewenangan pihaknya. Lantaran, pihak dinkes hanya memantau makanan dan minuman dalam kemasan.

Menurutnya, keberadaan ikan-ikan dengan kandungan formalin itu menjadi kewenangan lintas sektoral seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).
"Harusnya yang action itu adalah perikanan (DKP). Sedangkan kenapa kok bisa beredar di pasar, itu tanggung jawab disperindag," ujarnya sebagaimana dilansir surya.co.id.

Adapun ciri-ciri ikan mengandung formalin, lanjutnya, tubuh ikan kenyal, bau tidak amis, kulit atau sisik mengkilat, dan tidak dikerubung lalat seperti layaknya ikan di pasar. "Kalau seperti itu mencurigakan. Tapi alasan penjual, ikan-ikan itu didatangkan dari luar. Sekarang hampir semua ikan basah dan kering pakai formalin. Jadi bingung mau makan apa," pungkasnya.

Temuan lebih mencengangkan disampaikan Kepala DKP Kabupaten Bangkalan Budi Utomo. Selain mengandung formalin, para nelayan ikan juga menggunakan cairan pemutih pakaian untuk bahan pengawet. Hal itu diketahui melalui inspeksi mendadak bersama lintas sektor termasuk Komisi D DPRD Bangkalan di sejumlah pasar tradisional.Tim memeriksa beberapa sample ikan segar milik seorang pedagang yang disimpan dalam box dipenuhi es batu.  "Ternyata ada kandungan pemutih pakaian. Kulit ikan sangat besar sehingga menampakkan ikan masih segar," tuturnya. 

Kendati demikian, pihak DKP Kabupaten Bangkalan masih enggan membeber pasar mana saja yang menjual ikan dengan kandungan zat membahayakan itu. "Kami masih ingin menelusuri dari mana ikan-ikan itu berasal. Apakah hasil tangkapan nelayan lokal atau ikan kiriman dari luar kota," ujarnya.

Hasil penyelidikan sementara, ikan hasil tangkapan para nelayan lokal Desa Banyusangkah ternyata banyak dikirim ke Surabaya.Sebaliknya, ikan-ikan yang beredar di pasar Ki Lemah Duwur merupakan ikan kiriman dari luar kota. "Pilih ikan yang dikerubungi banyak lalat. Kami akan minta bantuan BPOM untuk bertindak," pungkasnya.(surya)