- - - -
Facebook  Twitter  Google+

06/07/2017

Gender dan Segenap Isu yang Mengekangnya

Penulis: Nur Atika

Isu tentang perempuan belakangan ini banyak mengisi wacana di tengah masyarakat dilain wacana politik dan ekonomi, baik di televisi, koran hingga berbagai media sosialpun hampir penuh dengan pembahasan sesosok perempuan. Isu perempuan ini menjadi semakin menarik ketika kesadaran akan ketidakadilan diantara kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang sering disebut ketidakadilan gender, ini semakin tinggi dikalangan masyarakat kita. Perempuan yang sekarang ini jumlahnya lebih besar dibanding laki-laki belum banyak mengisidan menempati sektor-sektor publik yang ikut berpengaruh di dalam menentukan keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan penting. Kalaupun perempuan memasuki sektor publik, posisinya selalu berada di bawah laki-laki, terutama dalam bidang politik. Kenyataan seperti ini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga terjadi di negara-negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Berbagai upaya di tempuh untuk mengangkat derajat dan posisi perempuan agar setara dengan laki-laki melalui berbagai institusi, baik yang formal maupun yang nonoformal. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah terwujudnya keadilan gender (keadilan sosial) di tengah-tengah masyarakat. Diantara strategi yang di tempuh untuk mewujudkan keadilan tersebut adalah melibatkan perempuan dalam pembangunan. Pemberian kesempatan yang sama terhadap perempuan untuk melakukan aktivitas di berbagai bidang sebagaimana laki-laki ternyata tidak menjamin untuk terealisasikan keadilan gender. Penyebab utamanya adalah rendahnya kualitas sumber dayakaum perempuan yang mengakibatkan ketidakmampuan mereka bersaing dengan kaum lelaki dalam pembangunan, sehingga posisi penting dalam pemerintahan maupun dunia usaha didominasi oleh kaum lelaki.

Gender berbeda dengan sex, meskipun secara etimologis artinya sama, yaitu jenis kelamin. Secara umum sex digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis, sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, dan aspek-aspek nonbiologis lainnya. Artinya, sex mencakup keseluruhan dari gender, sedangakan gender itu sendiri adalah perbedaan peran anatara laki-laki dan perempuan.

Berbicara tentang agama, islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada perempuan setara dengan kedudukan yang diberikan kepada laki-laki. Kesetaraan ini bukan berarti menjadikan perempuan sama persis dengan laki-laki dalam segala hal. Tentunya ada batasan-batasan tertentu yang membedakan wanita dengan pria.

Dari beberapa tulisan-tulisan para feminis Muslim dapat dilihat bahwa islam sebenarnya sama sekali tidak menempatkan kedudukan perempuan berada di bawah kedudukan laki-laki. Jadi islam benar-benar menunjukkan adanya kesetaran dan keadilan gender. Jika selama ini kita memahami adanya ketidakadilan dalam islam ketika memposisikan perempuan dan laki-laki dalam hukum, adalah karena warisan pemahaman islam (fiqih) dari para tikoh muslim tradisional yang di perkuat oleh justifikasi agama. Oleh  karena itu, kaumfeminis itu bersepakat untuk mengadakan rekonstruksi terhadap ajaran-ajaran tradisional agama untuk sejauh mungkin mengeliminasi perbedaan status yang demikian tajam antara laki-laki dan perempuan yang telah dilakukan selama berabad-abad. Rekonstruksi dilakukan dengan jalan menafsirkan kembali teks-teks al-Quran yang berkaitan dengan wanita yang selama ini sering ditafsirkan dengan nada misoginis (yang menunjukkan kebencian kepada perempuan).

Selanjutnya kita akan mengkaji secara singkat kesetaraan gender dalam bidang pendidikan. Kesetaraan gender dalam bidang pendidikan menjadi sangat penting mengingat sektor pendidikan merupakan sektor yang sangat strategis untuk memperjuangkan kesetaran gender. Tidak ada bias gender dalam kebijakan-kebijakan tersebut. Kesempatan untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia baik laki-laki maupun perempuan tidak dibedakan.
Peraturan perundang-undangan di negara kita tentang pendidikan tidak ada ynag mengarah pada ketimpangan gender.

Tidak ada kebijakan yang bias gender terkait dengan kesempatan untuk mendapatkan pendidkan di Indonesia mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Jika terjadi perbedaan jumlah laki-laki dan perempuan pada jurusan-jurusan tertentu baik di SMA, SMK, maupun di PT, bukan karena kebijakan yang dibuat menurut demikian, tetapi hal ini semata-mata adalah karena pilihan para peserta didik yang dipengaruhi oleh asumsi perbedaan kemampuan mereka.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam sama sekali tidak menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki, baik dari segi substansi penciptaannya, tugas dan fungsinya, hak dan kewajibannya, maupun dalam rangka meraih prestasi puncak yang diidam-idamkannya. Islam, melalui kedua sumbernya al-Quran dan Sunnah, menetapkan posisi dan kedudukan perempuan setara dan seimbang dengan posisi dan kedudukan laki-laki. Dengan kata lain, Islam benar-benar menunjukkan adanya kesetaraan gender dan tidak menghendaki ketidakadilan atau ketimpangan gender.

Dalam bidang pendidikan, pemerintah indonesia juga tidak menetapkan kebijakan yang bias gender. Dengan kata lain, arah pendidikan di Indonesia adalah demi terciptanya kesetaraan gender dalam bidang pendidikan. Jika terjadi ketimpangan dalam proporsi jumlah laki-laki dan perempuan dalam jurusan-jurusan atau program-program studi tertentu di jenjang SMA maupun PT, hal ini bukan karena kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, akan tetapi lebih ditentukan oleh cara berpikir tradisional masyarakat Indonesia.

Diantara masyarakat kita masih ada yang berpandangan bahwa perempuan lebih pantas untuk memerankan fungsi domistik, yaitu mengurus keluarga dan anak-anak, sedangkan laki-laki di asumsikan lebih pantas memerankan fungsi publik, yakni di dunia luas untuk mencari nafkah penopang keluarga. Karena itulah, sekarang banyak perempuan yang memasuki jurusan pendidikan dan keguruan, meskipun banyak juga yang memasuki jurusan-jurusan yang lain.

Penulis: Nur Atika
Tetala  : Sumenep, 12 April 1996
Alamat: Parebaan, Bragung, Guluk-guluk, Sumenep