- - - -
Facebook  Twitter  Google+

15/07/2017

Perspektif Gender Hari Ini

Kartika Febriana

Wanita adalah kata yang umum digunakan untuk menggambarkan perempuan dewasa. Perempuan dewasa yang sudah memiliki wewenang untuk bekerja dan menghidupi keluarga, wanita memiliki karakteristik yang dominan feminim dan berpusat semua pada perasaan. Sehingga semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki–laki berbeda.  Namun, gender bukanlah jenis kelamin laki-laki dan perempuan sebagai pemberian Tuhan.

Gender lebih ditekankan pada perbedaan peranan dan fungsi yang ada dan dibuat oleh masyarakat. Oleh karena itu, gender penting di pahami dan dianalisa untuk melihat apakah perbedaan tersebut menimbulkan diskriminasi dalam artian perbedaan yang membawa kerugian dan penderitaan terhadap pihak perempuan. Sebenarnya, kita telah mempunyai basis legal yang menjamin hak  - hak dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan.

Hal tersebut terlihat dari Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang di buat oleh PBB pada tahun 1993. Namun, deklarasi tersebut tidak begitu dikenal oleh masyarakat di Indonesia, sehingga jarang di buat sebagai acuan dalam kegiatan penyelesaian masalah yang berbasis gender (Sunanti Zalbawi, 2004) biasanya wanitalah yang menjadi pusat diskriminasi dan sering terlibat sebagai korban kekerasan.

Namun di zaman sekarang sudah mulai berbalik tolah dengan zamn dulu dimana pria yang sekarang menuntun akan emansipasinya, Pria adalah sebutan yang digunakan untuk spesies manusia berjenis kelamin jantan, pria juga menggambarkan mengenai sosok laki-laki dewasa berarti dimasa ini sudah bisa kemungkinan besar untuk menentukan jati diri seseorang dimana kodrat pria yang memiliki karakteristik maskulin dan berwatak keras jika ditanya soal perasaan pria itu tidak bisa menyampaikan perasaan yang halus dan benar karena semua berdasarkan pada logika. Banyak sekali permasalahan yang akan dihadapi oleh seorang pria terutama dalam kesetaraan gender.

Munculnya persoalan gender ini ketika pada abad ke-19 di Prancis, di mana ketika itu upah yang didapat oleh laki dan perempuan saat bekerja sangat berbeda. Hal inilah yang kemudian memunculkan ketidakadilan antara perempuan dan laki-laki. Selain itu faktor biologis ini juga dijadikan sebagai titik tolak awal kemunculan gender, seperti laki-laki lebih memiliki otot yang kuat dari pada perempuan. Maka dari hal itu laki-laki sering sekali menjadi korban terhadap kekerasan yang dialami wanita pria menjadi tersangka atas kasus kekerasan maupun lainnya. sehingga pada era yang baru ini laki-laki menjadi emansipasi untuk tidak melakukan kekerasan pada wanita.

Walaupun wanita dan pria sama-sama memiliki perasaan dan pemikiran namun perbedaan karakteristik akan muncul dari salah satu sisi yang tidak dominan dimiliki seperti wanita yang mana itu merupakan dominan dimiliki oleh pria seperti sifat maskulin yang jarang terlihat dan ditampakkan oleh wanita, sama hal yang ketika mereka memilih untuk menjadi wanita tomboy, sedangkan untuk pria  tanpa disadari memiliki sifat seperti wanita yang feminim dimana ketika pria ingin merasa diperhatikan dan mengingikan hal-hal yang dimiliki wanita seperti cara jalan, dan berpenampilan. Pada zaman sekarangpun upaya dalam menyajikan suatu image sangatlah luas, perlu anda ketahui semua bahwa laki-laki dan perempuan sangatlah mirip dalam segi emansipasi tidak ada dari kedua belah pihak yang ingin dirugikan satu sama lain ketika para lelaki menginginkan keadilan para perempuan pun juga sama hal yang dengan para lelaki mereka juga ingin agar hak nya didengar.

Hal ini tergambar dari hasil The International Conference on Population and Development (ICPD, 1994) dan  Fourth World Conference on Women (Beijing PFA, 1995) yang memberikan pondasi awal pelibatan laki-laki di isu keadilan gender. Permasalahan gender merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Banyak isu-isu yang muncul kemudian tertuju pada kesetaraan gender yang dialami antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebetulnya kesetaraan gender ini bukan melulu pada perempuan dan laki-laki namun, kesetaraan gender ini juga sebenarnya terjadi pada kelompok-kelompok rentan atau kelompok minoritas.  

Penulis:
Nama    : Kartika Febriana
Tetala    : Malang , 25 Februari 1997
Alamat  : Jl. Intan IV FD 11, Kamal, Bangkalan