- - - -
Facebook  Twitter  Google+

12/07/2017

Wanita dan Kekerasan dalam Rumah Tangga

Merry Eka Fatmala

“Bias gender sebagai predictor kekerasan dalam rumah tangga” Anugriaty Indah Asmarany.

Kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan tindak kejahatan terhadap martabat manusia serta merupakan bentuk dari diskriminasi. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah tindakan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami, istri, maupun anak yang berdampak buruk terhadap keutuhan fisik, psikis, dan keharmonisan hubungan (Wikipedia). Istilah KDRT sebagaimana yang sudah ditentukan pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga tersebut seringkali disebut kekerasan domestic.

Lingkup tindakan KDRT adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang akibatnya timbul kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Sebagaian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suaminya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu.
Siapapun dapat berpotensi untuk menjadi pelaku maupun korban dari kekerasan dalam rumah tangga. Dari beberapa kajian literature, kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan hal ini lebih sering terjadi yaitu kekerasan yang dilakukan laki-laki ditujukan kepada perempuan. Persepsi yang menjadi pelaku kekerasan lebih memungkinkan adalah laki-laki dan yang mengalami kekerasan korbannya adalah perempuan, hal ini berhubungan dengan stereotype bias gender (Seelau&Seelau, 2005).

Kekerasan dalam rumah tangga yang selama ini banyak terjadi bisa dikatakan seperti fenomena gunung es. Artinya persoalan kekerasan rumah tangga yang selama ini terekspose pada publik hanya pada puncaknya saja. Pada masa sekarang ini tindak kekerasan dalam rumah tangga, baik kekerasan fisik, psikis, seksual dan penelantaran rumah tangga, semakin sering terjadi pada kaum wanita terutama pada istri, anak perempuan, dan pembantu rumah tangga yang mayoritas adalah perempuan.
Ada faktor penyebab KDRT lainnya yang dialami oleh perempuan yaitu adanya pengaruh dari budaya patriaki yang ada ditengah masyarakat.

Ada semacam hubungan kekuasaan di dalam rumah tangga yang menempatkan perempuan diposisi yang lebih rendah dari laki-laki. Kemudian adanya ajaran agama yang keliru. Dari pemahaman yang keliru terkadang membuat perempuan berada dibawah kekuasaan laki-laki sehingga suami berhak melakukan apa saja terhadap istri seperti memukul sebagai cara yang wajar dalam mendidik istrinya. Adanya tekanan hidup seseorang misalnya himpitan ekonomi, kehilangan pekerjaan (pengangguran) dan sebagainya. Hal-hal yang seperti itu dapat memicu terjadinya kekerasan keluarga karena seseorang mengalami stress.

Hadirnya UU PKDRT tentu menjadi harapan besar bagi masyarakat, khususnya para perempuan untuk melawan segala tindak kekerasan dalam rumah tangga. Secara keseluruhan UU PKDRT sendiri memuat mengenai pencegahan, perlindungan, dan pemulihan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga.

Jika diantara kita mengetahui ada tindak kekerasan dalam rumah tangga janganlah lagi berpendapat bahwa hal tersebut merupakan masalah rumah tangga orang lain. Jangan membiarkannya karena membiarkan hanya akan membuat kaum wanita semakin tertindas. Akan tetapi berbuat sesuatu untuk korban kekerasan baik membantu mencari pertolongan, seperti mendatangi polisi atau lembaga swadaya masyarakat yang menangani korban kekerasan dalam rumah tangga. Tanpa adanya bantuan dari pihak luar akan membuat korban sulit untuk mencari jalan untuk keluar dari permasalahannya.


Penulis:

Nama : Merry Eka Fatmala

Tetala : Bangkalan, 2 Maret 1997

Pekerjaan: Mahasiswa Psikologi UTM