- - - -
Facebook  Twitter  Google+

13/07/2017

Waria Juga Berprestasi

Eka Desita S.

Apa itu waria? Siapa itu waria? Yah, pasti kita sudah tidak asing dengan sebutan itu.
Menurut Atmojo dalam bukunya, waria adalah laki-laki yang berdandan dan berperilaku sebagai wanita.

Bagaimana itu bisa terjadi?.

Seseorang memilih untuk menjadi waria pasti memiliki alasan masing-masing. Ada beberapa faktor penyebab seseorang menjadi waria yaitu, faktor biogenik (hormon seksual perempuan dominan), faktor psikogenik (permasalahan psikologis), dan faktor sosiogenik (keadaan lingkungan sosial). Namun, masyarakat cenderung memandang negatif tentang keberadaan waria. Mereka sering mengolok-olok dan memandang rendah waria.

Perlu kita ketahui bahwa waria juga manusia. Mereka sama seperti kita. Hanya saja penampilan mereka yang berbeda. Mereka juga butuh bersekolah, bekerja dan lain sebagainya.

Tahun lalu, telah digelar pemilihan Miss Waria Indonesia 2016 secara tertutup dan diikuti oleh puluhan waria dari seluruh Indonesia. Selain itu, juga terdapat Miss Transchool 2017.

Melalui ajang kontes kecantikan tersebut membuktikan bahwa waria tidak hanya menimbulkan hal negatif melainkan waria juga memiliki kemampuan dan prestasi yang sama dengan kita.

Untuk diketahui, waria atau wanita pria, atau dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai bencong adalah istilah bagi laki-laki yang menyerupai perilaku wanita. Dalam istilahnya waria adalah laki-laki yang berbusana dan bertingkah laku sebagaimana layaknya wanita. Istilah ini awalnya muncul dari masyarakat Jawa Timur yang merupakan akronim dari “wanita tapi pria” pada tahun 1983-an panduan dari kata wanita dan pria.

Pendapat lain mengenai waria adalah kecendrungan seseorang yang tertarik dan mencintai sesama jenis. Sedangkan menurut pendapat lain menjelaskan bahwa waria adalah individu-individu yang ikut serta dalam sebuah komunitas khusus yang para anggotanya memahami bahwa jenis kelamin sendiri itulah yang merupakan objek seksual paling menggairahkan.

Secara fisiologis waria itu sebenarnya adalah pria. Namun pria (waria) ini mengidentifikasikan dirinya menjadi seorang wanita. Baik dalam tingkah dan lakunya. Misalnya dalam penampilan atau dandanannya ia mengenakan busana dan aksesori seperti wanita. Begitu juga dalam perilaku sehari-hari, ia juga merasa dirinya sebagai seorang wanita yang memiliki sifat lemah lembut.

Mereka melakukan aktivitas sehari-hari yang normal, umumnya mereka berprofesi di bidang-bidang yang memerlukan keterampilan yang biasa dilakukan wanita. Seperti salon, butik atau di bidang kesenian, meskipun ada juga yang kerja kantoran. Mereka sering tampil apa adanya artinya tidak menutup-nutupi ciri kewariaan mereka. Biarpun berpakaian laki-laki tetapi gaya bicara dan tingkah laku mereka punya kekhasan seperti wanita. Jika mereka berpakaian wanita, lengkap dengan pernak-perniknya. Dulu mereka cenderung tertutup dan malu-malu namun kini mereka lebih berperan dan terbuka.


Penulis:
Nama  : Eka Desita S.
Tetala  : 1 Desember 1996
Email   : ekadesita@ymail.com